Selasa, 29 Mei 2012

MENULIS DENGAN HATI
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Bagiku menulis ibarat berlatih naik sepeda sewaktu aku masih kecil. Bukan aku mempelajari atau bertanya bagaimana agar aku bisa naik sepeda dengan lancar. Memang aku sering bertanya bagaimana caranya aku supaya bisa naik sepeda dengan lancar. Ternyata hasil dari bertanya aku praktekkan naik sepeda. Aku sering jatuh tidak langsung bisa naik sepeda tersebut. Aku bosan dengan bertanya bagaimana cara naik sepeda yang baik. Aku langsung berlatih naik sepeda sendiri di halaman rumah. Mulai aku berlatih menuntun sepeda dari dalam rumah ke luar rumah. Berangsur-angsur aku naik sepeda hanya beberapa meter saja. Aku tingkatkan jaraknya menjadi dua meter, tiga meter, dan seterusnya sampai terasa aku tidak takut lagi mencoba naik sepeda. Semakin sering aku berlatih, maka semakin aku berani naik sepeda. Tidak lama waktu aku berlatih naik sepeda, kurang lebih satu minggu aku sudah lancar naik sepedaku.
Yang paling berkesan dalam kegiatan menulis dari dulu sampai sekarang adalah menulis dengan perasaan yang mendalam. Berbeda ketika aku menulis makalah atau skripsi, rasanya menulis tidak menggunakan hati terdalamku. Rasanya kegiatan menulis seperti itu tidak membuatku senang dan bersemangat untuk menulis. Menulis yang diawali dengan mempelajari teori orang lain, bukan berdasarkan masalah yang aku hadapi, ternyata sulit aku menulis yang banyak dan semangat yang tinggi. Hanya baru beberapa paragraf saja aku sudah malas untuk meneruskan tulisan tersebut. Kertas bekas bertumpuk-tumpuk dan akhrnya aku buang, aku bakar atau aku jual dengan harga yang sangat murah. Begitu kejadian tersebut cukup lama. Bertahun-tahun aku menulis tidak menghasilkan tulisan yang diterima media cetak. Adapun sekarang tulisanku tidak tampil lagi di majalah Warta Winaya Pandeglang bukan tulisanku tidak diterima, tetapi aku sengaja tidak mengirimkannya. Maksudnya aku menulis sebanyak mungkin dan nanti aku akan kirimkan sekaligus sebanyak-banyaknya untuk banyak media cetak yang ada di lingkungan pendidikan tingkat kabupaten, propinsi, dan pusat.
Selama bulan ramadhan kemarin aku mampu menulis lima puluh judul artikel. Itupun tidak aku lakukan setiap hari atau malam. Mudah-mudahan semangat menulisku semakin hari semakin bertambah terus. Kuncinya aku menulis dengan hati yang terdalam, bukan dengan pikiran dan pendapat orang lain. Menulis dengan hati berarti menulis memakai perasaan, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Kondisi terpurukpun aku tetap menulis dengan semangat yang tinggi. Walaupun omongan orang bertubi-tubi menerjang telingaku tetap aku bersemangat untuk menulis dengan perasaan kesal, takut, khawatir, dan perasaan negatif lainnya. Ternyata menulis dengan hati yang kesal, misalnya, hatiku malah sebaliknya menjadi tenang dan nyaman. Alhamdulillah menulis dengan perasaan bukan menambah perasaan negatifnya , tetapi kondisi pikiran dan perasaanku semakin membaik. Menulis semacam terapi penyembuhan bagiku.
Aku bisa menulis dengan hati, maka setiap orangpun bisa menulis dengan hati selama mereka merasa penting tentang menulis tersebut. Pertama-tama dalam hati kita ada perasaan senang, perasaan penting, perasaan bermanfaat, dan perasaan positif lainnya sebelum dan ketika menulis. Ada istilah “Tak kenal maka tak sayang.” Memang benar sebelum kita kenal terhadap apapun tidak akan senang kita jadinya. Kenali dulu tentang menulis tersebut sebelum kita lebih menyenanginya. Setiap orang bisa menjadi penulis. Bukan teori yang membuat kita terampil menulis, tetapi latihanlah yang membuat kita terampil. Latihan menulis secara terus-menerus, betahap, dan komitmen melakukannya akan menjadi kebiasaan yang baik. Menulis ibarat berenang juga. Apabila kita sering menceburkan diri ke dasar lautan kata-kata, membaca buku atau tulisan yang berkualitas untuk dibaca, dan meramunya ke dalam tulisan sendiri, maka keberhasilan menulis tidak akan terlalu lama.
Yang membuat kita mau menulis, di antaranya adalah memahami tujuan sebelum kita mulai menulis. Alasan kuat mengapa kita menulis harus sudah terpateri di dalam hati dan pikiran kita. Tujuan menulis adalah melakukan komunikasi untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, informasi dan uneg-uneg kepada diri sendiri dan orang lain. Menulis bertujuan memberi pencerahan kepada sesama orang, tetapi pada awalnya untuk memberi pencerahan kepada diri sendir. Pada awalnya semacam rahasia pribadi. Namun untuk apa kita menulis apabila tujuannya diri sendiri melulu, kalau tidak bermanfaat untuk orang lain rasanya kurang bermanfaat yang meluas. Menulis semacam ibadah lewat tulisan. Apabila sudah termasuk ibadah kita akan mendapatkan banyak manfaat yang bisa menyelamtkan diri kita di dunia dan di akhiratnya. Sungguh membahagiakan kegiatan menulis sudah termasuk kategori ibadah.
Menulis merupakan kerja intelektual yang membutuhkan keterampilan khusus, latihan yang tidak kenal lelah, kejelian, daya rasa, daya nalar, prediksi, referensi, etika, waktu, dan kesabaran sebelum tercapai apa yang menjadi tujuannya. Namun tidak perlu kita sempurna seawall mungkin. Untuk memiliki kelengkapan unsure-unsur intelektual tidak perlu mencapai secara ideal. Biarkan saja pikiran kita mengembara, biarkan perasaan kita menelusuri kedalaman hati, menulis dengan hatilah yang terpenting kita buktikan seawall mungkin. Modal dasar bagi penulis adalah semangat, dorongan, niat, dan kesungguhan hati untuk menambah wawasan ilmu dan pengalaman. Membaca buku dan tulisan berharga, atau membaca tulisan yang sudah dikhususkan dalam satu disiplin ilmu. Bagi para guru menulis bidang pembelajaran atau pendidikan akan lebih mengena daripada menulis bidang ekonomi misalnya. Sebab, apabila seorang guru menulis bukan bidangnya pembahasannya akan mengambang.
Dalam menulis kita tentu harus menentukan tema terlebih dulu, idenya bisa didapatkan dari bahan bacaan dan sekarang bisa didapatkan di dalam internet. Bertebaran di berbagai situs dan blog tulisan sebagai sumber literatur kepenulisan kita. Sungguh disayangkan banyak mahasiswa, guru, dan kaum intelektual yang membiarkan internet tidak digunakan sebagai media pencerahan wawasan dan hidup kita. saja. Untuk mengembangkan ide-ide atau gagasan, kita cari rujukan atau referensinya. Untuk langsung menulis, sebagian orang terlebih dulu membuat outline atau langsung terjun tanpa outline secara tertulis. Apabila sudah terbiasa menulis semua outline sudah siap di kepala dan di hati, percayalah. Kita jangan mengarapkan tulisan kita langsung bagus atau langsung jadi dan dikirim ke media cetak. Bagi kita tulis saja dulu apa yang ada di hati dan pikiran kita saat itu. Biarkan kita menulis bagaikan air mengalir. Setelah itu, lakukan penulisan ulang sekaligus revisi sendiri atau pengeditan sendiri.
Kunci sukses penulis, selain banyak membaca dan selalu berpikir kreatif, adalah perlunya latihan, latihan, dan latihan. Jika tulisan kita tak kunjung dimuat di media massa, bukan berarti kita tidak mempunyai bakat menulis, Jangan pernah berhenti menulis gara-gara tidak diterima penerbit atau media cetak. Terus saja menulis, paling tidak, di samping kita mengasah keterampilan menulis dan daya nalar, kita dapat merekam pemikiran sendiri pada saat menulis. Lagi pula tidak semua penulis berniat mempublikasikan tulisannya, boleh jadi niat awalnya sekadar menuangkan ide kreatif yang terus memenuhi pikirannya, atau sekadar menuangkan hobi. Namun jika ternyata ada kesempatan untuk mempublikasikannya di media atau dalam bentuk buku, itu suatu anugerah.
Pada kesempatan ini, saya perlu menyampaikan beberapa kita menulis yang diambil dari beberapa sumber, terutama dari orang yang bergelut di bidang kepenulisan. Sebelum menulis kita harus memperhatikan kegiatan (1) menggali ide, (2) menguji ide, (3) mengumpulkan bahan, dan (4) mulai menulis dengan hati dan pikiran kita. Menggali ide, sumber ide antara lain bacaan, pengamatan, pengalaman, pendapat, obrolan, pengetahuan, perasaan, keinginan, dan tontonan. Kebanyakan ide muncul ketika kita membaca berita di koran atau melihatnya di televisi. Dari sanalah kita bisa memunculkan tema-tema aktual dan menarik.
Menguji ide, apakah ide-ide itu actual, berguna bagi khalayak, cukup pengetahua dan bahan bacaannya untuk mengembangkan ide-ide dalam sebuah tulisan, danide-ide itu sesuai dengan visi dan misi media cetak? Mengumpulkan bahan, setelah mendapatkan ide untuk menulis, maka siapkan bahan-bahan (referensi) yang dapat mendukung pengembangan ide tersebut menjadi sebuah tulisan , antara lain; buku, kumpulan artikel, kliping di koran tentang masalah yang akan kita tulis itu. Di sinilah pentingnya kita memiliki perpustakaan pribadi atau kliping koran atau majalah. Mulai menulis, bagi penulis pemula, ketika mulai menulis, jangan memikirkan bagaiman menulis dengan tulisan bagus. Langsung saja tuliskan apa yang ada di pikiran dengan gaya bebas, layaknya menulis surat, mengisi buku harian, atau menulis jawaban soal ujian di bangku sekolah/kuliah. Biarkan mengalir. Ada pepatah, “ semua tulisan pertama pasti kacau balau. Janganlah tunggu sampai kita dapat menulis kalimat atau bab-bab yang sempurna, atau ungkapan-ungkapan yang sempurna. Janganlah kecewa jika kita gagal untuk menghasilkan kualitas yang tinggi dalam tulisan pertama. Pokoknya teruslah kita memulainya.

Kita bisa berlatih dengan rajin menulis dalam buku harian, atau saat ini banyak orang memanfaatkan fasilitas blogger sebagai pengganti buku harian. Di pagi hari, atau sebelum pulang kantor/kuliah, kita ceritakan aktivitas harian yang menarik, dan komentar tentang pengalaman menarik hari itu. Boleh juga sesekali menulis surat pembaca, atau mengomentari tulisan, artikel di media, atau sekadar tulisan di blog orang lain. Agar tulisan kita runtut, buatlah dulu garis besar isi tulisan mulai dari pendahuluan, pokok bahasan, hingga penutupnya. Tentukan tujuan kita menulis, siapa pembacanya, dan topik tulisannya. Secara umum, tahap-tahap menulis adalah menentukan topik; didapat dengan mencari ide lewat bacaan, pendengaran, perasaan atau perenungan, membuat outline; menulis bebas tanpa ikatan outline atau sumber literatur, kemudian lakukan penulisan sesuai outline; penulisan ulang sesuai dengan referensi; dan pengeditan sendiri dengan perbaikan atau penambahan untuk kata-kata yang tidak perlu ditulis dan tidak bermakna, dan sebagainya.
Apabila kita ingin mengeluti profesi sebagai penulis harus memiliki tekad dan keuletan, kesabaran dalam meraih keinginannya. Menulis adalah seni. Untuk menjadi penulis profesional kita harus merencanakan berlatih menulis secara sungguh-sungguh, seperti seorang pemain sepak bola yang ingin tampil prima di lapangan, maka perlu latihan yang sungguh-sungguh dan konsisten melakukannya. Saat penulis AC. Spectorsky (1959) memberi tugas bagi penulis pemula, yang ia tugaskan bukan menulis, melainkan meluangkan waktu untuk menyepi, lalu merenung, berpikir sepanjang hari, dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya akan menjadi penulis?”. Hal itu dilakukan, “karena banyak orang yang ingin jadi penulis, namun hanya beberapa yang benar-benar mau menulis,” ungkap Spectorsky.
Kemauan atau ambisi untuk dapat menulis (menjadi penulis) akan menimbulkan semangat, keuletan, dan mendorong seseorang melakukan apa saja yang memungkinkannya mencapai kemampuan menulis. Misalnya mengikuti pelatihan jurnalistik, membaca buku-buku petunjuk menulis, berlatih dan sebagainya. Di sini berlaku papatah, “di mana ada kemauan di situ ada jalan” atau “siapa yang sungguh-sungguh pasti mampu mewujudkannya”. Jangankan penulis pemula, penulis yang “sudah jadi penulis” pun jika tidak ada kemauan, tidak akan membuat tulisan/artikel.


Baca Selengkapnya~~ >>
MENIKMATI WAKTU LUANG
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Waktu apapun sama saja penting, tetapi di antara yang penting ada yang lebih utama. Utamanya waktu adalah waktu yang diisi dengan aktivitas berpikir, berkarya, instropeksi, berdoa, berdzikir, dan aktivitas lain yang membawa manfaat dan maslahat bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa ini. Bukan waktunya yang utama, tetapi bagamana kita dalam mengisi waktu tersebut. Yang paling penting mengisi waktu yang bias menghasilkan sesuatu.
Dalam hal ini saya akan menggunakan waktu dengan kegiatan aktivitas menulis. Sudah cukup lama kegiatan menulis ini saya tinggalkan karena berbagai alasan. Alasan dari dalam diri saya maupun alas an dari luar. Terutama alas an keluarga yang mengatakan bahwa menulis yang tidak menghasilkan uang jangan dilakukan. Memang beralasan bahwa segala sesuatu harus menghasilkan. Nilai ibadah ada di balik kegiatan tersebut.
Kegiatan menulis menghasilkan sesuatu berupa uang dan uang tersebut diberikan kepada keluarga itulah idealnya. Oleh karena itu saya menulis harus saling menguntungkan. Saya memberikan sesuatu karya tulis dan orang lain memberikan sesuatu imbalan kepada saya yang sewajarnya. Memang kegiatan menulis seperti itulah yang akan saya rintis dengan sematang dan seoptimal mungkin demi kelangsungan hidup saya.
Waktu apapun ada waktu luangnya, seperti seorang guru mengajar sesuai dengan jadwal yang berlaku memang ada waktu luangnya untuk berpikir atau menulis. Terutama menulis yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran atau pendidikan. Menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan profesi dan menulis yang tidak berhubungan secara langsung dengan profesi harus bersama-sama saya lakukan. Menulis dari hal yang paling sederhana sampai menulis yang paling kompleks.
Saya mau menulis yang membuat seluruh anggota keluarga merasa nyaman, tenang, dan selalu mendukung kegiatan menulis saya selanjutnya. Bukan menulis yang membuat mereka marah karena waktu luangnya merasa tersita dan tidak menghasilkan untuk mereka. Saya benar-benar mau menjadi penulis yang mampu menuliskan segala permasalahan sehari-hari maupun masalah global pada saat ini. Misalnya saya tidak punya uang, maka saya harus menulis yang bias menghasilkan uang banyak yang bias bermaslahat demi kepentingan diri dan orang lain.

Tulisan saya sudah sebagian bias dimuat pada majalah ting kabupaten akan ditindaklanjuti dengan upaya saya mengirimkan kembali karya-karya tulis yang baru. Insya Allah bermunculan kembali ide-ide kepenulisan saya. Biarkan ide-ide mengalir lewat tulisan saya. Menulis yang menghasilkan sesuatu akan terus saya upayakan. Dari menulis artikel sampai menulis buku akan saya upayakan dengan sepenuh hati, pikiran, dan tenaga saya. Saya akan menulis dengan hati, pikiran, dan gerak fisik yang sesuai kemampuan.
Hati dan pikiran saya sudah lama menganggur dari kegiatan menulis ini, akan saya bangkitkan kembali. Saying akan semangat yang waktu lama menggebu-gebu diberhentikan dengan alas an uang dan uang saja. Sementara anggapan saya sekarang adalah aktivitas menulis yang maksimal dulu yang akan mampu menciptakan sumber uang berlimpah. Itulah motivasi saya untuk memulai menulis yang sudah lama diberhentikan.
Saya merasa bingung memikirkan bagaimana agar hidup saya lebih bermakna. Bermakna dalam arti membuat diri sendiri dan orang lain terbawa pengaruh baiknya saya. Antara saya dan orang lain harus saling member dan saling menerima. Saya member ide-ide lewat tulisan dan orang lain member imbalan sesuai apa yang sudah saya berikan lewat tulisan.
Dalam diam dan geraknya saya harus terjaga dari kemubahan hidup. Dari hari ke hari saya harus selalu bermakna. Diamnya saya berpikir untuk mencari solusi yang berguna bagi diri saya dan orang lain yang sama masalahnya. Diamnya saya dapat merasakan betapa sakitnya orang dihina, dibenci, diperlakukan tidak baik oleh sesamanya, dan merasakan betapa laparnya orang yang di bawah garis kemiskinan. Dari hal tersebut semoga menjadi daya pendorong diri saya dan diri orang lain untuk menjadi subjek yang empati terhadap sesama.
Diamnya saya harus membuat gerakan yang membuat inovasi di bidang kehidupan manusia. Bidang pendidikan harus berubah kea rah perbaikan demi perbaikan. Kenyataannya hasil pendidikan masih di bawah batas maksimal. Hal itu menunjukkan masih banyak persta didik dan para pendidiknya yang belum maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Buktinya, di dalam satu kecamatan hanya satu dan dua orang saja guru yang mampu melakukan kegiatan menulis. Sedangkan kegiatan menulis merupakan kegiatan yang menunjukkan profesionalisme bagi para guru. Petani bekerja membajak sawahnya, sedangkan guru dengan menulisnya.
Bagi para guru kegiatan menulis tidak bisa dihindari, karena merupakan salah satu bagian dari empat keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu hal yang harus dikuasai para guru. Tidak ada alas an lagi kegiatan menulis untuk ditinggalkan oleh pihak yang merasa kaum intelektual seperti para guru. Para guru, para mahasiswa, dan semua orang yang bergelut di bidang pendidikan atau bidang lainnya jangan melewatkan kegiatan menulis ini.
Sebagai warga Negara yang baik harus merasa bertanggungjawab untuk selalu meningkatkan prestasi di bidang masing-masing, di antaranya bidang tulis-menulis berdasarkan kemaslahatan umat. Oleh karena itu saya mengajak kepada rekan-rekan pendidik untuk meningkatkan kemampuan menulis.
Baca Selengkapnya~~ >>
MENGUTAMAKAN PENCAPAIAN SASARAN ORGANISASI
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Sekolah termasuk salah satu organisasi seperti tim olah raga yang profesional. Tujuan sebuah tim olah raga adalah kemenangan dalam setiap pertandingan. Memang itu tujuan yang sebenarnya tim tesebut, adapun kata-kata tujuan pertandingan sebagai persahabatan adalah keharusan bagi setiap orang yang merasa hidup itu suatu berkah. Untuk bisa menang dalam pertandingan suatu tim harus memiliki keunggulan. Begitu juga suatu organisasi bisnis atau organisasi profesi apabila ingin menang dalam mencapai tujuannya, maka keseluruhan unsur organisasi tersebut harus kompak dalam satu sasaran yang tepat. Semua unsur menuju satu arah dalam mencapai tujuan.
Suatu tim sepak bola tujuannya agar menang setiap bertanding, organisasi bisnis tujuannya agar mendapatkan keuntungan yang besar atau kecil, dan organisasi profesi tujuannya agar mencapai prestasi setiap anggotanya dalam bidang yang dijadikan sasarannya. Organisasi berbeda dengan organisasi bisnis. Organisasi profesi adanya kecenderungan misi ibadah, sebab isi tujuannya adalah prestasi para anggotanya. Para anggota mampu menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik dan tepat sasaran. Terlebih organisasi sekolah, mempunyai tukuan agar para siswa mampu menjadi sumber daya manusia yang berdaya dan berkualitas. Menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah, memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan kinestik, kecerdasan finansial, dan kecerdasan spiritual yang tinggi. Ada landasan ibadah dan amal kebaikan dalam pencapaian tujuan organisasi sekolah.
Sekolah mempunyai peran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang mampu bersaing dalam kebaikan di antara sesama sekolah di dalam satu kecamatan, satu kabupaten, satu propinsi, dan satu negara. Bahkan, sekarang bukan lagi bersaing di dalam satu negara, tetapi bersaing di dalam dunia internasional. Sekarang sudah membentuk dunia dalam satu ikatan yang padu dengan istilah globalisasi. Siapa tahu lama-kelamaan belajar juga tidak perlu lagi ada ruangan kelas. Suatu alternatif belajar di masa mendatang tidak memerlukan lagi batas ruang kelas. Belajar bisa berlangsung di rumah, di kamar tidur, di depan rumah, di jalan, dan di mana saja atau pada waktu kapan saja.
Namun pada hakikatnya sama bahwa belajar pada saat ini maupun pada saat dunia semakin maju, dengan sarana dan prasarana yang serba canggih, tujuannya sama agar para peserta didik selamat di dunia dan selamat di akhiratnya. Tujuan yang sangat kompleks, tidak hanya tercapainya hal yang bersifat materi, tetapi berhasil dalam bentuk mentalitas para peserta didik. Dengan demikian, faktor materi atau duniawi bukanlah motif yang paling utama. Namun bukan berarti faktor duniawi dilupakan atau kurang penting. Prinsipnya seperti kita memanan padi(akhirat), maka rumput(dunia) juga ikut tumbuh.
Berbeda dengan apabila kita memanam rumput tidak akan tumbuh padi. Hal itu memberi pelajaran kepada kita bahwa apabila kita mengejar dunia sudah pasti urusan akhirat dilupakan, Apabila kita mengejar akhirat dengan sebenar-benarnya, maka urusan dunia akan ikut terbawa. Sasaran pencapaian sekolah adalah memperoleh hasil urusan dunia tanpa melupakan urusan akhiratnya. Para siswa memiliki kualitas kepribadian yang sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah tersebut. Sebenarnya banyak teori dan ayat Al-Qur’an yang menyatakan betapa pentingnya urusan dunia dan akhirat kita capai.
Firman Allah bisa kita jadikan dasar falsafah hidup, seperti “ Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. 28: 78) Dan sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW, yaitu “ Beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok, dan bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya.”
Sasaran pencapaian pendidikan suatu sekolah memperhatikan urusan dunia dan akhirat. Para siswa bisa sukses di dunia dan sukses di akhirat yang tidak bisa dipisahkan. Sukses di dunia tidak sekedar banyak harta kekayaan, ilmu pengetahuan yang tinggi, tetapi ada yang paling penting adalah hidup di dunia bisa memakmurkan bumi ini. Kita menyelaraskan kepribadian peserta didik dan kita sebagai pendidinya yang dalam urusan dunia dan urusan akhiratnya. Tubuh terus bekerja, otak terus berpikir, tetapi pada saat yang sama hati kita terus berdzikir untuk mengingat Allah.
Kita menentukan apakah segala sikap yang kita pilih sudah mencerminkan akhlak dari sikap orang yang beriman atau belum. Apakah tindakan kita merugikan diri kita dan orang lain atau tidak. Apakah usaha kita merusak alam dan lingkungannya, atau apakah sikap kita terhadap orang lain itu adil atau tidak? Dengan pertimbangan semacam itu, semua tindakan kita bukan mengacu pada tujuan-tujuan jangka pendek, keuntungan-keuntungan sesaat saja. Apa yang kita lakukan harus bisa kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Mau tidak mau hal itu harus menjadi bahan pertimbangan hidup, suatu organisasi atau perorangan dalam mencapai suatu tujuan atau sasaran.




Baca Selengkapnya~~ >>
MENGUBAH HIDUP DENGAN MENULIS
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Saya mendengarkan sahabat yang menceritakan pengalaman pahitnya, saya merasa iba mendengar apa yang dia ceritakan tetapi sampai pada kisah suksesnya, saya berubah menjadi senang karena dia melakukan percepatan yang begitu drastis. Perlu saya ikuti cara-cara dia mencapai kesuksesan setelah lama mengalami tragedi di rumah tangga orang tuanya. Sebelum ayahnya menerima hasil suksesnya, ayahnya telah meninggal dunia. Apa yang menurutnya baik, dia melakukan dengan antusias yang tidak ada bandingnya.
Seperti yang mustahil bahwa itu hasil dari semangat juang selama dia berada dalam keterpurukan kondisi rumah tangga orang tuanya. Patut saya teladani garis perjalanan hidup yang dia alami. Begitu garis perjalanan hidup saya juga panjang, sampai saat ini belum benar-benar reda. Sebagian sudah saya rasakan hasilnya. Dulu teman ada yang mengatakan bahwa upaya saya itu salah jalan sehingga mengakibatkan banyak masalah utang yang sangat besar.
Namun saya sadari apa yang dia katakan itu merupakan cambuk sebagai penyemangat hidup saya agar bisa mencapai kesuksesan dengan banyaknya tempaan masalah. Saya belajar dari alam, seperti pohon kelapa di tepi pantai. Semakin besarnya angin menempa bahkan semakin kuat dengan lenturnya menggerkakan batangnya tanpa patah. Sama halnya dengan besi yang ditimpa martil dan api yang sangat panas akhirnya dapat dibentuk menjadi golok yang berfungsi untuk segala hal yang berhubungan dengan potong-memotong benda-benda yang perlu dipotong.
Allah menjannjikan kepada umat Islam apabila kita kuat menerima tempaan masalah dengan kesabaran suatu saat akan menerima hasilnya yaitu kesuksesan. Dari lulusan Sekolah Guru SD tahun 1982, setengah tahun kemudian diangkat CPNS, menikah, punya tiga orang anak sambil kuliah ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uninus Bandung dan lulus tahun 1998. saya kuliah hanya berbekalkan gaji bulanan saya dan istri, walaupun sampai saat ini belum lunas-lunas utangnya.
Dilanjutkan anak yang pertama dan kedua kuliah, anak yang pertama di IPB tetapi anak yang kedua tersendat-sendat kuliahnya sampai saat ini masih kuliah di Perguruan Tinggi Swasta tidak jauh dari kampung tempat tinggal saya. Sekarang sedang menyusun skripsi, sementara anak yang pertama dari lulus telah mengalami menjadi Tenaga Harian Lepas (THL ) di Dinas Pertanian, masih honor waktu itu. Sekarang sudah menjadi CPNS tepatnya menjadi seorang staf Dinas Pertanian Kabupaten Serang kabupaten Banten. Bahkan setahun lebih empat bulan dia bisa membangun rumah di atas tanah dari mertuanya.
Ternyata janji Allah tepat dapat saya rasakan, saya menjadi sarjana strata satu walaupun kuliah sarjana strata duanya terhanti dulu. Menjadi seorang Kepala Sekolah yang mendapatkan sertifikat sertifikasi sejak tahun 2007. anak pertama menjadi pegawai yang cerah dalam hidupnya, masih muda sudah golongan III/a dan peluang kariernya terbuka lebar. Semoga dia bisa mencapai tingkat Menteri Pertanian. Sebab, dilihat dari semangat kerja dan kemampuannya dapat saya saksikan.
Anak yang kedua memiliki kemampuan berbicara melebihi saya, setiap membaca dia cepat menangkap dan menceritakan dengan tepat. Mampu memberi komentar apabila selesai membaca buku atau setelah mengikuti materi perkuliahan. Semoga dia menjadi guru agama Islam yang baik dengan kemampuan intelektual, emosional, finansial, dan spiritual yang benar-benar menjadi teladan orang banyak.
Sementa anak ketiga, saya doakan menjadi anak yang tinggi tingkat kualitas kepribadiannya. Tingkah lakunya terpuji setiap akan berangkat jauh atau dekatnya, dia selalu minta izin dan doa dari saya dan istri saya ataupun kepada kakanya. Lancar dalam belajar di SD, SMP, SMA dan semoga lancar kuliah serta kerjanya di hari mendatang. Alhamdulillah, anak bungsu ini menjadi pemimpin yang diteladani sebab sejak kecil dia disenangi dan diturut teman-teman sebayanya.
Saya mulai saat ini bersemangat menulis apalagi setelah memiliki aptop, walaupun hasil kredit, Insya Allah saya bisa bangun dari keterpurukan banyak utang menjadi kaya raya dengan menulis bahan tulisan yang berkualitas dan bermanfaat bagi para pembaca. Saya mau hidup dengan kegiatan menulis. Sambil menuntut materi atau finansial, saya mau menjadi pejuang lewat tulisan. Dulu para pahlawan berjuang dengan fisik melawan para penjajah. Namun saya mau berjuang lewat tulisan melawan kebodohan.
Musuh zaman modern ini adalah kebodohan, terdapat di dalam kepribadian yang berijazah rendah atau tinggi. Terpenting kualitas iman dan takwanya itulah orang yang dikatakan cerdas. Orang bodoh adalah orang-orang yang tidak bisa memilih mana yang baik dan mana yang salah. Tidak cukup dengan bisa memilhnya, tetapi bisa mempraktekkannya. Itulah yang menjadi inti apa yang saya tuliskan. Saya mau menulis artikel sampai menulis buku yang tipis maupun yang tebal.
Mengenai masalah umur sudah hampir lima puluh tahunan tidak menjadi masalah. Saya mau membuktikan bahwa umur tua juga bisa berbuat lebih bermakna walaupun asalnya benar-benar saya tidak mampu menulis. Mulai saat ini pula saya akan berlatih lebih banyak untuk menulis dan menulis dengan perasaan dan pikiran yang sangat matang. Saya menghadirkan Allah Yang Maha Tahu segalanya. Saya tidak memiliki kekuatan dan kemampuan menulis kalau tanpa bantuan-Nya.
Akan saya jadikan laptop sebagai sarana yang membawa saya ke pintu kesuksesan. Sukses menjadi penulis besar yang bisa menjadi ladang ibadah, berdakwah lewat tulisan itulah yang mampu saya lakukan untuk orang lain. Saya tidak bisa menjadi pembicara seperti para pemimpin pemerintahan, organisasi, politik atau yang lainnya. Mereka pandai menyampaikan ide-idenya lewat lisan. Saya kurang mampu untuk itu, tetapi Insya Allah untuk menyampaikan lewat tulisan.
Saya mengajak kepada pembaca setia artikel ini untuk menulis. Itu juga bagi siapa saja yang seide dengan saya untuk mengembangkan potensi menulis dan memberikannya kepada penerbit. Minimal kita bisa berguna kepada diri sendiri maksimal kepada seluruh pembaca yang saya cintai. Marilah kita ubah diri kita masing-masing dengan menulis. Menulis dengan maksud untuk mengikat makna menurut Pak Hernowo yang banyak menginspirasi kepada saya lewat buku “Mengikat Makna Update.” Saya mau menulis seperti beliau setiap kata dan kalimatnya mengandung inspirasi tentang membaca sekaligus menuliskannya.
Saya mau menspesialisasikan diri lewat kegiatan menulis dan membaca. Menulis untuk memberikan makna dan manfaat kepada banyak orang. Sekali lagi wahai sahabat yang saya sayangi, mulai saat pula mari kita bangkit dengan kemampuan menulis kita. Awali kegiatan menulis ini dengan niat beribadah bahwa upaya apa yang kita tulis untuk membuat diri kita berubah ke arah kedewasaan, baik dewasa usia maupun dewasa mentalnya.
Baca Selengkapnya~~ >>
MENGISI HARI MINGGU
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Bagi perempuan dan laki-laki orang dewasa akan berbeda dalam mengisi waktu libur termasuk hari Minggu. Bagi laki-laki ada kecenderungan lebih leluasa dibandingkan dengan perempuan. Namun bagi siapa saja perbedaan itu tidak menjadi bahan perdebatan untuk membela tidak melakukan kegiatan menulis. Yang senang menulis kedua jenis kelamin tidak menjadi penghalang untuk tidak menulis pada hari libur. Pekerjaan lain bisa diatasi dengan sebaik-baiknya dan lebih efektif dan efisien dilakukannya.
Menyisihkan waktu pada hari Minggu sebagai hari libur merupakan cara yang paling berharga dalam upaya pengembangan diri. Apalagi sebagai guru kegiatan menulis pada hari tersebut adalah upaya untuk mengembangkan kemampuan melatih otak (pikiran ) dan hati (perasaan ). Kedua alat pada manusia itu akan lebih tajam dengan kegiatan menulis dalam pengembangannya. Cari tempat yang lebih nyaman dan menambah semangat kerja menulis. Bisa saja dilakukan di depan rumah atau di mana saja yang penting semangat sewaktu menulis.
Terasa nikmat menulis pada laptop dibandingkan dengan buku tulis dan pulpen. Bukan saya sombong tetapi itu kenyataan yang sebenarnya setelah saya melakukannya. Barang-barang yang sangat mendukung semangat bekerja atau aktivitas pengembangan diri sebaiknya diupayakan bagaimanapun caranya. Baju mahl atau perabot rumah tangga bisa dibeli mengapa laptop tidak padahal lebih mendukung karier misalnya.
Setiap kali menulis dengan laptop dituntut harus bisa menyelesaikan satu artikel atau kalau bisa lebih. Terpenting satu kesempatan tersebut didisi dengan menulis yang tujuannya bisa diterbitkan. Selain kita mendapatkan berupa finansial, juga mendapatkan manfaat lain yang bisa mengubah hidup kita. Prinsip hidup adalah kemajuan bukan kemunduran. Mundur berarti kematian, walaupun jasadnya hidup apabila tidak berkembang berarti mati. Mati perasaan dan mati pikiran tidak melakukan hal yang terbaiak dan menguntungkan ini.
Hari libur bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa, tetapi mesti kita melakukan hal-hal yang terbaik. Menulis termasuk salah satu kegiatan yang bisa mengangkat harkat dan derajat setiap pelakunya. Banyak bukti zaman dahulu maupun zaman sekarang dari kegiatan menulis, para penulis menghasilkan buku-buku yang masih dibaca banyak orang padahal penulisnya telah lama meninggal dunia.hal itu membuktikan bahwa menulis itu banyak manfaatnya bagi orang lain atau pembaca pada khususnya.
Orang lain bisa melakukan seperti itu mengapa kita tidak bisa? Sama-sama manusia bisa melakukan menulis, bedanya tingkat kemauan mereka lebih tinggi. Kebernian melakukan kegiatan menulis lebih besar dibandingkan kita yang cenderung mau cari mudahnya saja hidup. Padahal susah payahnya apa yang kita lakukan memberi imbalan yang sangat banyak pula. Modal besar akan mendapatkan hasil atau keuntungan yang lebih banyak pula. Percayalah, kegiatan besar yang dilakukan dengan niat besar dan ikhlas akan menjanjikan bagi kehidupan kita.
Kembali pada eksistensi hari Minggu sebagai hari libur bagi para karyawan, akan membuat pelakunya menjadi manusia besar hanya dengan kegiatan menulis yang niatnya ibadah dan mau mengabdikan diri sebagai pelaku yang bisa mengisi kesempatan berharga ini. Waktu sangat berharga bagi kita, maka waktu yang sudah lewat tidak bisa diulang kembali. Oleh karena itu isilah waktu dengan sebaik-baiknya lewat menulis tentang kepribadian, ilmu pengetahuan, teknologi dan pengalaman yang sarat dengan makna.
Coba kita perhatikan berapa banyak tulisan yang kita hasilkan dalam sebulan apabila setiap hari Minggu kita menulis artikel sebanyak lima judul saja. Apalagi kalau artikel yang dibuatnya lebih banyak lagi. Kemudian semuanya bisa diterima penerbit. Setiap judul diberi honor Rp. 100.000,00, maka akan sangat besarlah uang yang didapatkan. Walaupun dalam keinginan, keinginan yang berdasarkan hasrat menggebu-gebu sambil tetap bahwa Allah yang bisa mengabulkakan semua itu. Menulis adalah kata yang sangat sederhana, anak kecil juga bisa membacanya. Namun menulis yang diawali dengan hasrat akan bantuan Allah setiap saat kita menulis.
Mari kita berdoa kepada Allah agar kita menjadi pengisi waktu libur dengan menulis yang produktif. Menulis adalah pengembangan diri bisa berdiri tegak dalam menghadapi kehidupan ini. Hari Minggu adalah hari yang sangat menyenangkan sebab memberi solusi kita di masa mendatang yang gilang gemilang. Mari kita menulis dengan kesempatan hari Minggu yang lebih efektif dan efisien.


Baca Selengkapnya~~ >>
MENGATASI SISWA MALAS BELAJAR
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Sebagai guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya tidak hanya mengajar untuk menyampaikan materi pelajaran saja. Menyampaikan materi sesuai dengan program tanpa memperhatikan kondisi siswa pada saat mereka menerima pelajaran tersebut. Bisa saja dengan materi yang sama disampaikan dengan kondisi siswa yang berbeda akan diterima dengan hasil yang berbeda. Pada saat siswa sakit atau sedang jengkel atau marah, pelajaran diterimanya dengan malas. Sebelum guru menghadapi siswa, dia harus memperhatikan kondisi siswa tersebut. Tidak asal tersampaikannya materi pelajaran sesuai target yang ingin dicapainya.
Pada dasarnya keadaan siswa mampu memahami materi pelajaran dengan baik, asalkan mereka bisa diperhatikan situasi dan kondisi sewaktu belajarnya. Dengan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, maka proses dan hasil pembelajaran akan tercapai dengan baik. Yang harus diperhatikan oleh guru dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran adalah kondisi dan lingkungan belajar di mana siswa itu berada. Ini sangat menentukan sekali, maka dalam hal ini bagi guru harus menjadi fokus perhatian sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Ada 3 lingkungan belajar siswa yang harus diperhatikan guru dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran ini, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakatnya. Apakah di rumah siswa sangat mendukung atau menghambat belajar siswa? Bagi siswa yang keadaan keluarganya antusias dalam belajar, maka sudah pasti siswa terpengaruh akan bersemangat ketika belajar di rumah maupun di sekolahnya. Sebaliknya, apabila keadaan di rumahnya tidak mendukung akan dipastikan anak akan tidak beremangat untuk belajar.
Ukuran mendukung dan tidaknya lingkungan keluarga terhadap belajar siswa sangat relatif. Bisa saja ayah dan ibunya sebagai guru lebih parah daripada bukan keluarga guru, karena tidak antusias mereka terhadap masalah belajar. Seperti yang anti membaca saja, padahal kegiatan membaca merupakan hal pokok dalam upaya belajar siswa dan diri orang tua tersebut. Apabila siswa mau menjadi pembelajar yang baik, maka orang tua harus rajin membaca. Membuat lingkungan rumah tangganya sebagai lingkungan pembelajar. Di rumah punya perpustakaan dan membiasakan semua warga rumah itu membaca yang efektif.
Seorang ayah, ibu, kakak, diri anak dan saudara-saudaranya tidak ad yang ketinggalan untuk melakukan kegiatan membaca di rumah. Daripada membelikan pakaian atau hal-hal yang tidak langsung mendukung kemampuan berpikir atau merasakan sesuatu yang mengembangkan diri semua pihak, khususnya mengembangkan kepribadian anak, maka seorang ayah atau ibu lebih baik membelikan buku-buku yang berkualitas dalam pengembangan diri anak itu sendiri dan seluruh anggota keluarga. Membuat situasi di rumah dengan situasi yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan anak-anaknya.
Seorang ayah dan ibu harus bisa membuat kebiasaan atau budaya baca dan budaya tulis, sebab antara kegiatan membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Dalam hubungan guru dan siswa tentang bagaimana dalam mengatasi agar siswa tidak malas belajar adalah dengan upaya guru untuk menindak lanjuti kebiasaan membaca mereka di rumahnya masing-masing. Kita dapat mengetahui lingkungan rumah tangga siapa yang sangat mendukung dan siapa yang tidak mendukung belajar siswa tersebut. Dengan upaya guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa yang ditindak lanjuti dengan penuh kesungguhan.
Guru menjalankan tugas dan kewajibannya tidak sebatas waktu dari pagi sampai siang kira-kira pukul 12.30 saja sementara habis waktu itu lepas tanggung jawabnya. Sampai kapan pun apabila kebiasaan itu dipelihara, maka belajar siswa tidak akan berhasil dengan optimal. Hal ini harus ada keseriusan dari pihak guru. Mengapa demikian? Jawabannya akan bermacam-macam, tetapi intinya adalah pihak guru sebagai pihak yang lebih mengerti dalam bidang pendidikan. Kecuali ada pihak orang tua sebagai pendidik yang melaksanakan ilmu yang dimilikinya. Sebab tidak sedikit dari orang tua berpendidikan guru lebih lemah dari pada bukan pihak guru.
Guru harus bisa mengetahui tentang keberadaan anak didiknya dengan cara banyak kunjungan rumah. Meluangkan waktu untuk mengetahui materi pembelajaran dan kondisi fisik dan psikis anak tersebut. Misalnya saja, guru memberikan PR kepada siswa tentang soal cerita. “wati menabung setiap hari Rp. 5000,00 sementara Budi Rp. 6000,00. berapa rupiah uang Wati dan berapa rupiah uang Budi setelah 30 hari? Dan, berapa jumlah uang keduanya setelah 30 hari?” Biarkan orang tua sejauhmana dalam membimbing anak-anaknya dalam upaya mendewasakan anak bukan malah memberi tahu hanya jawabannya. Ada dua kemungkinan hasil bagi siswa setelah diberi pekerjaan rumah tersebut.
Ada orang tua yang mengerti tentang soal-soal tersebut dengan bimbingan yang baik kepada anaknya. Membimbing anak sampai benar-benar mengerti, tetapi ada yang mengerti malah memberi tahu jawannya kepada anak. Ini yang bisa meracuni jadi anak pemalas tanpa mau berjuang mencari jawaban dengan kemampuan dirinya. Kesalahan yang tidak disadari oleh sebagian orang tua. Yang pertama, adalah orang tua yang mengerti dengan pelaksanaan bimbingan yang baik membuat anak mandiri. Sebagai modal dasar di hari mendatang dalam menghadapi hidup dan kehidupan menggunakan potensi dirinya. Sementara orang tua yang kedua, memberi modal dasar rasa malas terhadap anak-anak di masa kini dan masa mendatang.
Masih ada lagi keadaan orang tua dalam hubungannya dengan ilmu dan penerapannya dalam menghadapi tugas anak-anaknya. Ada yang sama sekali tidak mengerti masalah tugas yang dihadapi anaknya, tetapi dengan penuh keikhlasan mereka dalam membelikan pakaian dan keperluan anak-anaknya. Berdoa untuk kebaikan anak di masa mendatang dan menitipkan pendidikan anak kepada guru-gurunya. Benar-benar mereka ikhlas anaknya menerima pendidikan dari pihak sekolah. Ada dukungan semangat dan biaya di luar biaya yang ada di sekolah. Namun tidak sedikit orang tua siswa yang sangat tidak mendukung terhadap pendidikan anak-anaknya. Sungguh sangat disayangkan punya anak sebagai amanat dari Allah untuk disia-siakan oleh sebagian orang tua seperti itu.
Apakah benar semua guru atau warga sekolah telah menjadikan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang kondusif belajar siswa? Kita jangan berprasangka buruk dulu terhadap keadaan warga sekolah bahwa sekolah tidak mendukung semangat belajar siswa. Namun kita jangan terlalu percaya terhadap keadaan lingkungan sekolah terhadap semangat belajar siswa. Selama pihak sekolah, dalam hal ini guru belum menjadaikan lingkungan sekolah kondusif terhadap belajar siswa dengan ciri-ciri di sekolah guru-gurunya banyak membaca buku dan mengembangkannya dalam bentuk tulisan, maka prestasi belajar siswa lemah. Sebab, kegiatan membaca merupakan bagian dari keterampilan berbahasa yang bersifat menerima informasi dan ilmu pengetahuan. Membaca identik dengan belajar, dan belajar merupakan kewajiban bagi umat Islam. Yang dikatakan wajib harus dikerjakan, meninggalkannya berarti melanggar apa yang diperintahkan Allah.
Wahai teman-teman guru, mari kita budayakan membaca dan beri keteladanan untuk para siswa dengan kegiatan membaca itu. Dalam Al-Quran diperintahkan kepada kita untuk membaca, baik membaca tulisan maupun membaca alam beserta isinya. Banyak hikmah di balik semuanya, setiap hari kita makan dengan makanan yang bisa menguatkan badan kita. Tubuh kita diberi makan agar kuat dan bisa melakukan aktivitas. Aktivitas yang bagaimana dan untuk apa manfaatnya kalau bukan untuk hal-hal yang baik. Sementara salah satu hal yang baik ini tidak dilakukannya? Membaca adalah termasuk hal yang baik itu, kita lakukan dengan sebaik-baiknya.
Tubuh kita diberi makan, tetapi otak dan hati kita tidak diberi makan dengan makanan buku-buku bergizi. Sepintas memang kurang berarti, tanpa membaca pun kita bisa hidup dengan normal. Sebenarnya tidaklah demikian. Mas Gol A Gong, pemimpin Rumah Dunia sampai berbicara, bagi calon Bupati atau anggota Dewan harus mempunyai perpustakaan di rumahnya dan banyak membaca buku. Termasuk para guru sebagai kaum intelektual harus menjadikan buku-buku sebagai sumber ilmu pengetahuannya. Pikiran kita beri makan dengan buku-buku yang berkualitas, menurut Pak Hernowo, buku-buku yang bermakna sehingga harus diikat dengan menuliskannya, dan menurut Pak Fauzil Adzim, buku-buku yang bergizi.
Ada tipe guru yang pandai berbicara secara lisan tetapi tidak mampu menulis dan tidak suka membaca. Kita perhatikan pembicaraannya, banyak kata terlontar, tetapi sangat sulit dipahami atau ngawur tidak bisa ditangkap mana pikiran utama dan mana pikiran-pikiran penjelasnya. Mohon maaf, ini bukan untuk diperdebatkan dan benci kepada penulis, tetapi ini untuk dijadikan instropeksi bagi penulis dan rekan-rekan sesama guru. Sayangi anak-anak atau para siswa dengan terlebih dahulu dengan keteladan dari kita semua. Sayangi mereka, bapak-bapak dan ibu-ibu guru semuanya, anak kita atau siswa kita dengan banyak bimbingan membaca sekaligus menulis. Sama penulis juga baru sadar bahwa kegiatan membaca dan menulis itu sangat penting untuk memajukan pendidikan generasi penerus bangsa.
Sekolah kita jadikan tempat untuk menempa para anak didik kita dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa melupakan pengembangan hati nurani. Khususnya kegiatan membaca dengan materi yang membuat pikiran siswa cerdas dan hatinya bersih sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bukan kita jadikan mereka tanpa cacat, tetapi kita jadikan manusia yang berbuat salah yang tidak disengaja dan belajar dari kesalahannya. Tanpa melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya. Mereka jadikan manusia pembelajar sepanjang hayat dikandung badan. Sesuai dengan fungsinya, sekolah itu harus bisa mendewasakan anak-anak didik dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dewasa menjadi dewasa. Intinya sekolah itu bisa kondusif dalam upaya menjadikan siswa sebagai pembelajar.
Semuanya tergantung pada kondusif atau tidaknya sekolah itu sebagai tempat belajar yang baik. Di sekalah harus ada perpustakaan idealnya, tetapi minimal dari pihak Kepala Sekolah dan guru-gurunya bisa dan biasa membaca (belajar). Tidak membiarkan waktu berlalu tanpa diisi dengan membaca tersebut. Membaca bukan sembarang membaca, tetapi membaca yang efektif. Untuk menjadi pembaca efekti para siswa terlebih dahulu diawali dengan kemampuan guru-gurunya membaca yang efektif. Cara untuk menjadi guru sebagai pembaca harus melalui pengararahan orang-orang yang telah lulus menjadi sarjana dan menguasai bidang membaca itu. Skripsi yang telah dibuatnya bertemakan tentang membaca efektif. Harus ada kesediaan pembimbing membaca dan guru-guru tersebut belajar atau menerima pelatihan.
Materi membaca sekitar bagaimana agar pembaca (guru dan siswa) bisa memahami kosa kata, inti kalimat, pikiran utama dan pikiran penjelas setiap paragraf yang dibacanya. Banyak cara latihan membaca itu, di antaranya dengan banyak menjawab pertanyaan isi bacaan dengan materi pertanyaan bersifat hapalan dan bersifat pikiran. Memang sebelum latihan sulit dimengerti, tetapi setelah praktek akan mudah dan akan merasa senang dengan kegiatan membaca tersebut. Marilah berlatih membaca mulai sekarang juga. Bukan nanti karena kata nanti tidak akan kesampaian. Tentu kita pernah membaca kata-kata yang ditempel di kaca mobil umum “Sekarang bayar besok jangan bayar!” Benar kata besok tidak pernah bisa temui, oleh karena itu mulailah sekarang juga membaca agar kita banyak wawasan ilmu dan pengalaman.
Mengenai lingkungan masyarakat, harus kita perhatikan pula dalam kaitannya dengan kebiasaan membaca siswa. Hampir sulit lingkungan masyarakat yang menyediakan buku-buku bacaan. Apalagi keteladanan dari aparat desa, seperi Kepala Desa, Sekdes, Kepala Dusun, RT, dan para tokoh masyarakat yang ada di lingkungan siswa berada. Sungguh keadaan lingkungan masyarakat di sekitar siswa itu berada masih memprihatinkan belum menunjang kebiasaan siswa rajin membaca. Marilah wahai para guru marilah kita isi kesempatan baik ini dengan meningkatkan membaca siswa dan kita sendiri di sekolah-sekolah.
Mau kapan lagi kita memperbanyak kegiatan membaca kalau tidak sekarang juga. Tadi sudah penulis katakan tidak ada kata nanti untuk melakukan kebaikan dengan membaca. Penulis Insya Allah siap berlatih bersama Anda atau pembaca artikel ini. Apa yang sudah penulis dapatkan mengenai materi membaca ini siap untuk disampaikan kembali kepada Anda semua. Sambil membimbing penulis siap belajar lagi untuk memperdalam tentang materi membaca tersebut.






Baca Selengkapnya~~ >>
MENGAPA SAYA HARUS MAPAN FINANSIAL?
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Bersenang-senang dalam kemewahan, banyak uang dan harta benda, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk kepentingan sesama yang sangat membutuhkan bukanlah tujuan saya. Maunya saya hidup banyak rizki, baik dalam bentuk harta kekayaan maupun dalam bentuk uang digunakan untuk sarana ibadah dan beramal saleh. Dulu tidak terpikirkan betapa pentingnya kekayaan. Dulu bagi saya kekayaan tersebut akan membuat hidup keblinger, bersenang-senang tanpa arah dan tujuan yang bisa menyelamatkan di dunia apalagi kelak di akhirat.
Memang sebelum saya memiliki kekuatan jiwa apabila langsung menerima kekayaan mungkin belum mampu memikul kekayaan tersebut. Oleh karena itu walaupun saat ini saya baru mulai menyadari betapa pentingnya uang, dan baru akan memulai bagaimana saya menciptakan sumber penghasilan yang menjadi percepatan bidang finansial, maka saya tidak termasuk orang yang terlambat. Daripada tidak sama sekali mencoba mau bergerak di bidang finansial, saya lebih baik memulai untuk mencoba bergelut di bidang finansial tersebut.
Banyak negatifnya bagi saya hidup tanpa kemapanan bidang keuangan. Segala kebutuhan yang kecil-kecil saja tidak saya cukupi apalagi kebutuhan-kebutuhan yang sangat besar. Kebutuhan diri sendiri maupun kebutuhan dalam hubungnnya dengan orang lain harus kita penuhi. Dari mulai masuk WC ketika saya bepergian jauh saya harus mengeluarkan uang, ketika di dalam bus banyak pengamen sayapun harus memberi uang, ketika mau naik haji bersama istripun harus mengeluarkan uang yang sangat besar. Mau ngomong apa gerangan beribadah menulaikan ibadah haji tanpa uang? Mau ngomong apa saya ketika orang tua saya meninggal dunia keadaan diri saya sedang kesusahan? Apalah yang hendak dikata tanpa uang yang memadai saya sulit memenuhi kebutuhan, ibadah dan beramal saleh.
Terasa menyedihkan bagi saya hidup dalam kepapaan. Untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap ringan saja saya mengutang kesana-kemari. Padahal tidak perlu saya lakukan bagi saya yang sudah memiliki penghasilan tetap setiap bulan. Seperti uang-uang yang saya terima setiap bulan tidak barokah saja. Uang memang bukan segalanya yang bisa menentukan, tetapi uang ternyata adalah sarana untuk mencapai tujuan hidup yang bisa menyelamatkan diri di dunia dan akhiratnya.
Saya sekarang tidak memandang uang sebagai hal yang akan menyesatkan, membahayakan, membuat hidup terlena, dan segala macam dalih yang menyepelekan uang. Saya tidak meunafik akan segala apa yang saya perlukan. Pokoknya uang bukan segalanya, tetapi tidak ada uang saya tidak bisa menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan keuangan. Orang-orang di sekitarpun yang pada awalnya baik menjadi berbelok menjauh. Mungkin ketakutan saya banyakmeminjam uang atau membuat diri mereka kebobolan uangnya. Jangankan orang-orang yang tidak ada hubungan darah, saudara juga bisa-bisa menjauh karena keadaan diri saya yang pas-pasan tersebut. Pengalaman membuktikan tidak banyak uang atau banyak utang suka menerima perkataan saudara yang mampu dengan sebutan “urang nu keur calangap kudu dibere” maksudnya, orang yang sangat kekurangan harus dikasihani.
Walaupun maksudnya bukan untuk menghina, tetapi diterima adalah suatu penghinaan yang tidak bisa dimaklumi. Sauadara-saudara yang dianggap meleklah yang didekati dan disanjung-sanjung. Saya tidak mau diam dalam kondisi demikian, saya harus mengubah nasib dari sengsara menjadi kaya raya atas dasar izin Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kesalahan dalam pengaturan keuangan pada awalnya yang membuat saya menjadi begini. Memang pernikahan saya bersama istri belum mampan. Baru menjadi CPNS sudah berani menikah padahal tuntutan pada waktu itu sangatlah banyak. Mungkin hal itu menjadi bumerang bagi diri saya. Keadaan serba kekurangan orang tua membuat sikapnya kurang mendukung keadaan diri saya. Mungkin saja jengkel seorang anak yang telah berhasil menjadi guru terlalu cepat menikah. Menjadi malapetaka jadinya yang saya terima sampai saat ini.
Saya bertobat atas kesalahan dan keegoisan ini tidak berpikir panjang dan penuh pertimbangan dalam bertindak. Namun keadaan telah terjadi sudah tidak bisa diubah terpenting saya harus berpikir ke depan bagaimana saya mampu mengubah nasib yang malang menjadi suatu keberhasilan untuk dunia dan akhirat. Yang sudah terjadi dan yang belum terjadi tidak bisa dilepaskan dari ketentuan Allah. Saya selalu ingat akan nasib dan takdir, tetapi saya harus ingat pula akan setiap usaha sayalah yang harus dilakukan dengan sefektif dan semaksimal mungkin. Saya harus ingat akan ketentuan Allah yang selalu menyertai segala usaha saya. Daripada saya tidak berupaya akan lebih baik saya terus berusaha seoptimal mungkin.
Menulis tanpa mengenal lelah setiap waktu dan kesempatan saya lakukan merupakan keyakinan saya untuk menjadi orang yang memiliki kekayaan, mental dan finansial. Memang kalau menulis dilakukan hanya setengah-setengan menghasilkan tulisan yang asal-asalan saja. Namun apabila saya menulis dengan semangat menggebu-gebu sepenuh hati, pikiran, tenaga, dan biaya, maka saya merasa yakin akan berhasil dengan gemilang. Tentu dalam hal ini hati dan pikiran yang mendekat kepada Allah selalu. Saya tidak memiliki kekuasaan, kemampuan, dan kelebihan kecuali semuanya berasal dari Allah. Saya harus semakin merendah dalam hati, tetapi semangat dalam upaya untuk menjadikan tulisan sebagai senjata ampuh dalam memperkuat kualitas dan keuangan di masa mendatang. Insya Allah, berhasil dengan semangat ilahiah yang berdiri kokoh di atas semangat juang yang tinggi.
Baca Selengkapnya~~ >>
MENDENGAR SUARA HALILINTAR
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Apa maksud dari judul di atas? Mungkin pembaca akan mengira bahwa halilintar yang dimaksud adalah makna yang sebenarnya. Bukan itu yang kumaksud, tetapi halilintar dalam arti kiasan. Ketika aku dengar suara hpku berbunyi aku mendadak seperti yang mau pingsan takut yang nelpon itu yang aku takutkan yaitu orang yang akan menagih utangku. Ternyata benar bahwa yang nelpon tersebut orang yang aku maksud. Beginilah nasib menjadi orang yang banyak utang, suara hp saja bagaikan suara halilintar yang menyambar diriku. Tidak banyak yang kukatakan atau jawaban atas tagihannya. Aku tak berdaya untuk beralasan mengapa aku belum siap membayar semua utang-utangku.

Semoga aku diberi kekuatan dan ketabahan atas semua musibah ini. Tetap pada suatu saat aku bertemu dengan apa yang disebut kebahagiaan dan banyak uang bukan banyak utang. Maafkan Ya Allah atas segala kesalahan aku dalam menjalani hidup dan kehidupanku ini! Aku tetap berharaf atas kuasa dan kasih saying-Mu atas diriku. Memang aku banyak melakukan kesalahan, tetapi aku tak kuat untuk menanggung penederitaan ini. Angkatlah derajatku ini Ya Allah! Bila aku masih berlumuran dengan dosa dan noda, aku mohon dengan kasih satang-Mu pintu maaf yang selebar-lebarnya.

Aku sudah tak kuasa lagi menerima penderitaan ini. Minimalnya aku tidak punya utang yang besar, sementara utang-utang kecil masih dapat aku menerimanya. Bukakanlah pintu rizki yang selebar-lebarnya. Walaupun aku tak tahu dari mana sumber rizki yang akan Engkau berikan kepadaku. Allah Maha Kuasa mengubah keadaan diriku kea rah yang lebih baik. Engkau yang lebih mengetahui maksud yang Engkau timpakan kepadaku. Namun demikian aku memohon kebahagiaan banyak uang untuk memenuhi segala kebutuhan keluargaku.

Aku sudah tak kuat dimarahi anak dan istri karena aku tak memberikan kebahagiaan dengan uang yang aku berikan kepada mereka. Bukan sengaja aku member uang yang berlimpah, aku tak tahu juga mengapa aku begini? Aku sudah tak mampu mendengar kritikan istri, sindiran istri, lemahnya penghargaan istri kepadaku, dan segala macam hal yang melemahkan diriku dari pihak manapun gara-gara banyak utang yang melelahkan ini. Aku dilahirkan bukan untuk dipersiapkan menjadi objek kemarahan orang lain, tetapi aku dilahirkan untuk menjadi sumber kebagiaan. Yang ditandai dengan banyaknya manfaat yang aku berikan untuk mereka.

Jadikanlah terus Ya Allah, aku menjadi ahli sabar dalam menerima segala musibah dan kekuarangan keuangan ini. Jadikanlah aku sebagai orang yang selalu menjadi orang terdepan dalam segala urusan lahir dan batin, dunia dan akhirat, dan urusan rumah tangga dan urusan Negara secara seimbang sehingga membuat aku dalam keadaan bereksistensi yang sebenar-benarnya.
Mulai saat ini pula aku memohon dicatat sebagai orang yang mampu bereksistensi sebagaimana orang-orang sukses, orang nomor satu dalam bekerja, berpikir, dan berasa. Kuatkanlah pikiran dan perasaanku dengan aplikasi yang penuh komitmen. Terkadang aku mengalami pasang surutnya dalam berpikir dan berasa. Akhirnya selalu kembali ke dalam kelemahan demi kelemahan yang sebenarnya sudah melesat dalam kesuksesan yang lebih menguatkan diriku,

Aku belum kuat tetap dalam kekuatan, kebaikan, kejujuran, kejayaan, keberhasilan, kebersamaan, keimanan dan ketakwaan yang bias mempertahankan posisi diriku dalam hal-hal yang positif. Berada dalam puncak kejayaan merupakan keniscayaan aku sampai pada keberhasilan di dunia dan akhirat. Yang harus aku pertahankan adalah keberhasilan dalam bidang kepenulisan yang sarat akan makna. Di balik keberadaan dan peristiwa yang aku alami semoga aku bias menggali maknanya untuk bekal hidupku yang di hadapannya banyak ranjau dan duri yang tajam membahayakan.

Media cetak tidak diisi oleh karya-karya tulis para guru. Sebenarnya para guru harus lebih berperan dalam dunia tulis-menulis. Aku harus bersiap diri dalam mengisi media penerbitan dengan tulisan-tulisan bermutu. Nilai-nilai keagamaan menuntut aku berpikir lewat tulisan. Pemecahan masalah lewat tulisan, selain orang-orang ramai melakukan pemecahan masalah lewat lisan. Media tulisan lebih langgeng apabila dibandingkan dengan media lisan. Aku harus meningkatkan budaya menulis daripada budaya lisan. Budaya tulis-menulis akan membuat negara kita dan bangsa kita banyak pedoman dalam bentuk tulisan. Tulisan bermakna akan banyak dibaca orang dari generasi ke generasi. Bahkan anak cucu kita dapat membaca tulisan kita apabila dapat dimuat dalam bentuk artikel atau buku. Baik tulisan dalam buku maupun dalam bentuk elektronik tetap dapat dibaca orang dalam waktu yang panjang.

Orang lain mewariskan harta benda kepada anak cucunya, tetapi aku selain harta benda yang diwariskan, maka ilmu dan tulisan aku dapat kita wariskan dengan bahasa hati ikhlas. Diharapkan pembaca dapat mendapatkan makna yang terkandung di dalamnya.




Baca Selengkapnya~~ >>
MEMBANGUN MOTIVASI DENGAN SHALAT
(Jajang Suhendi,Cikedal-Pandeglang)

Inti dari keyakinan beragama, khususnya keyakinan dalam menjalankan agama Islam adalah keyakinan kita kepada Allah. Keyakinan adanya Allah sebagai Tuhan yang memimpin segalanya. Dari kepemimpinan diri sampai kepemimpinan negara tetap Allah sebagai pemimpin yang paling berkuasa melebihi kepemimpinan semua makhluk-Nya. Kepemimpinan yang mengandalkan Allah, bukan mengandalkan rasa percaya diri. Apabila sering mendengar materi motivasi yang disampaikan oleh para motivator rasanya kurang menyentuh hati kita, hal itu tentu ada yang dilupakan bahwa yang memberi motivasi yang paling ampuh adalah Allah. Motivasi dalam meningkatkan kualitas diri dan berbagai tujuan seseorang pada dasarnya Allah-lah yang Maha Sempurna.

Pada umumnya orang setelah mendengar motivasi dari seseorang yang bukan menitikberatkan Allah sebagai sumbernya, menimbulkan kesan bahwa hasil dari mendengarkan materi tersebut adalah kekuatan diri sendiri bukan kekuatan Allah yang dilimpahkan kepada kita. Ketika ditanya bagaimana hasil dari mendengar ceramah tentang motivasi kepada Anda, jawabannya “luar biasa!” bukan Insya Allah dengan proses mendengarkan tentang motivasi tersebut saya memiliki keyakinan kuat bahwa Allah memberi kekuatan kepada diri saya. Dalam berbagai hal dan kegiatan saya selalu atas bimbingan-Nya. Tanpa adanya bimbingan Allah, maka saya tidak mungkin mampu berbuat sebaik ini. Kebanyakan malah berbicara “saya percaya diri dengan materi motivasi yang telah saya dengar!”

Memang yang dibicarakan adanya sandaran kepada Allah dalam pembicaraan para motivator tersebut, tetapi ada hal yang tersirat bukanlah Allah yang menjadi fokus. Mereka terfokus pada kekuatan upaya kita sebagai makhluk-Nya. Bukanlah upaya yang menjadi tolak ukur, tetapi kekuatan kekuasaan Allah yang diberikan kepada kita. Apa yang menjadikan Allah memberikan kekuatan kepada diri kita? Upaya pendekatan kita kepada Allah dengan pelaksanaan atas apa yang diwajibkan untuk dikerjakan kita. Dan kita mampu meninggalkan seluruh apa yang dilarang-Nya. Kita tentu akan terbius dengan kata-kata yang memposisikan diri sebagai sumber kekuatan, baik secara fisik maupun non pisik dalam melakukan upaya. Oleh karena itu tidak sedikit orang telah sering mendengar ceramah motivasi tanpa perubahan yang mendasar pada dirinya. Dalam hubungannya dengan tingkat kualitas diri dengan segala aspeknya.

Kata-kata “sekarang kemampuan saya sungguh luar biasa setelah banyak mendengar cerita motivasi dari Pak Anu!” Kata-kata tersebut sungguh terlalu berlebihan karena sifatnya membanggakan diri sendiri. Yang luar biasa itu siapa? Kita sebagai manusia ataukah Allah? Secara tidak langsung kata-kata tersebut hanyalah sebagai sarana motivasi saja, tetapi apabila kita tanpa memperdalam materi keyakinan beragama Islam bisa lupa diri bahwa yang luar biasa itu Allah. Seolah-olah kekuatan mental maupun fisiknya itu mengandalkan kekuatan diri, bukan kekuatan Allah. Mengandalkan kekuatan diri sebenarnya sangat terbatas, sebatas diri kita sendiri.

Inti kepemimpinan spiritual adalah membangkitkan kekuatan Allah dan menghilangkan kekuatan dalam diri. Membangkitkan kekuatan diri dengan kata-kata positif, seolah-olah kita bermain-main dengan kata-kata belaka tidak mendasar pada inti permasalahan bahwa kata-kata positif cumah sarana yang membuat manusia berpikiran positif dan berperasaan optimis. Bukan penentu yang sebenarnya, yang menjadi penentu semangat dan kualitas hidup hanyalah keberadaan Allah. Allah sebagai sumber segalanya termasuk sumber yang membangkitkan semangat dalam kinerja dan menjalani eksistensi diri di muka bumi ini. Pendekatan kepada Allah dalam segala urusan merupakan kekuatan yang lebih efektif. Merupakan jalan tool yang sangat efektif untuk membangkitkan kualitas spiritual kita hanyalah dengan melakukan shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Shalat memberikan dampak paling besar dalam membangkitkan kekuatan apa saja. Termasuk membangkitkan kekuatan dalam keyakinan untuk memimpin diri sendiri atau memimpin suatu organisasi dan perusahaan. Shalat dilakukan secara berulang-ulang yang menjadikan bahan pemicu dan sarana untuk meningkatkan kekuatan spiritual. Mudah-mudah dengan adanya kesadaran bahwa shalat yang ada di dalam ajaran Islam tidak lagi dihiraukan. Dengan pemahaman akan pentingnya shalat dalam upaya meningkatkan kekuatan diri diharapkan kita tidak menganggap tidak penting akan shalat tersebut. Orang-orang tidak ramai lagi mengutamakan meditasi sebagai sarana penyembuhan, solusi ketenangan, dan sarana perbaikan diri secara fisik maupun secara mental. Diharapkan orang tidak beralih dari ajaran Islam yang kaya akan berbagai solusi kehidupan ini ke sarana lain yang memfokuskan pada selain kepada Allah.


Baca Selengkapnya~~ >>
MEMBACA CEPAT DAN EFEKTIF
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif (menerima) dan mengolah bahan bacaan secara kritis dan kreatif, yang harus dimiliki oleh setiap orang. Membaca sangat bermanfaat untuk meraih keberhasilan selama belajar atau sepanjang hayat. Sebagai guru SD harus membekali para siswa dengan kemampuan membaca yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau bekal hidup di masyarakat.
Guru SD harus menguasai cara-cara pengembangan membaca kepada para siswa. Dan hal ini merupakan tanggung jawab para guru di SD. Terutama para guru harus memahami pengertian membaca, tujuan membaca, hakikat proses membaca, minat membaca, tuntutan realitas membaca, dan kecepatan membaca.
Membaca adalah kegiatan berhahasa yang berupa proses melisankan dan mengolah bahan bacaan secara aktif dan kreatif dengan tujuan memperoleh pemahaman yang mendalam. Membaca tidak hanya kegiatan menerima apa adanya bahan bacaan yang kit abaca. Membaca yang mampu menerima, mengolah dan menghubung-hubungkan bahan bacaan dengan bahan apersepsi yang telah kita miliki. Dan pada akhirnya kita memiliki pengetahuan baru yang bermanfaat bagi pembaca.
Membaca terdiri dari beberapa tujuan, yaitu pertama, membaca untuk mendapatkan informasi. Informasi tentang fakta kejadian sehari-hari sampai informasi tingkat tinggi mengenai teori-teori dan hasil penemuan secara ilmiah. Kedua, membaca agar citra dirinya meningkat. Kita membaca karangan orang lain agar memberikan nilai yang positif terhadap diri kita. Ketiga membaca untuk melepaskan diri dari kenyataan. Membaca yang bersifat menyalurkan perasaan jenuh, sedih, dan putus asa.
Keempat, membaca untuk tujuan rekreatif, untuk mendapatkan kesenangan atau hiburan, seperti halnya menonton film atau rekreasi ke pantai. Membaca buku-buku yang ringan dan sangat disukai. Kelima, membaca untuk iseng saja. Membaca dalam situasi iseng, seperti membaca iklan, cerita pendek, berita keluarga, dan lelucon pendek. Keenam, membaca untuk mencapai nilai-nilai keindahan atau pengalaman estetis dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Membaca karya yang memiliki nilai sastra, seperti membaca novel untuk mengetahui amanat, tema, karakter para tokoh, dan alurnya.
Membaca merupakan sebuah proses yang kompleks dan rumit. Mengapa membaca termasuk proses yang kompleks dan rumit? Pertama, membaca termasuk proses yang kompleks karena melibatkan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal membaca yaitu intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat, motivasi, tujuan membaca, dsb. Sedangkan faktor ekternal membaca yaitu sarana yang mendukung membaca, teks atau bacaan yang sederhana, sedang, dan sulit, faktor lingkungan, faktor latar belakang sosial ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.
Yang termasuk faktor internal membaca, seperti intelegensi atau kecerdasan intelektual menyangkut hakikat membaca. Hakikat membaca yaitu berpikir dan bernalar. Dalam membaca mengandung kegiatan berpikir dan dalam berpikir berisi kegiatan mengingat, memahami, membedakan, membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasikan, dan menerapkan. Dan berpikir berisi tipe induktif, deduktif, dan abstrak.
Membaca berhubungan dengan minat membaca, apabila minat pembaca tinggi pada kegiatan membaca, maka sudah dipatikan hasil membacanya akan tinggi pula. Berbeda dengan pembaca yang minat membacanya rendah akan rendah pula hasil membacanya. Oleh karena itu untuk meningkatkan hasil membaca yang tinggi, pembaca harus tinggi minat dan perhatiannya pada kegiatan membacanya.
Selain minat dan perhatian pembaca terhadap kegiatan membaca, maka tujuan membaca tidak bisa kita lupakan dalam konteks membaca. Berhasil dan tidaknya pembaca dalam membaca sangat tergantung pada tujuan membaca. Dari tujuan yang sifatnya sederhana sampai tujuan yang sifatnya sangat kompleks. Apabila tujuan membaca tersebut untuk menemukan pesan atau makna keseluruhan teks, maka membaca cepat yang kita gunakan, tujuannya untuk langsung menemukan hal-hal penting dari membaca tersebut dan melewati hal-hal tidak penting.
Faktor eksternal sangat penting untuk kita perhatikan dalam kegiatan membaca. Yang termasuk faktor ekternal membaca, yaitu sarana penunjang kegiatan membaca dan faktor latar belakang sosial ekonomi. Penerangan yang cukup waktu membaca sangat mempengaruhi berhasil dan tidaknya membaca, dan status ekonomi yang memadai dari pembaca sangat mempengaruhi berhasil dan tidaknya membaca.
Kedua, membaca termasuk proses yang rumit karena faktor internal dan faktor eksternal membaca saling berhubungan atau saling berkaitan dalam dalam menunjang pemahaman membaca isi bacaan. Keseluruhan faktor tersebut harus ada sewaktu kegiatan membaca apabila kita ingin lebih berhasil dalam kegiatan membaca tersebut. Bisa saja kita tinggalkan salah satu hal dalam faktor internal dan faktor ekternal, tetapi kita harus optimal melakukan kegiatan membaca tersebut.
Kita perhatikan surat kabar, majalah, dan buku-buku yang terbit di berbagai penerbit. Harus kita baca karena berisi informasi, ilmu pengetahuan, fakta, hasil penelitian, hasil telaah perkembangan politik, ulasan dan liputan peristiwa yang sangat penting bagi kita untuk kita ketahui. Semuanya merupakan tuntutan bagi kita untuk kita baca, supaya kita termasuk orang yang cerdas dan berkepribadian yang baik dengan hasil membaca itu.
Saking banyaknya bahan bacaan setiap hari harus kita baca agar kita termasuk salah satu kaum intelektual yang mampu memanfaatkan berbagai sumber bacaan tersebut. Bacgaimana cara membaca semuanya itu? Kita harus membaca secara cepat dan tepat. Dengan kecepatan yang tinggi tanpa melupakan pemahaman yang tinggi. Banyaknya apa yang kita baca sangat membutuhkan kecepatan dan ketepatan membaca yang tinggi.
Kecepatan membaca dapat kita ketahui dengan berapa jumlah kata yang dibaca setiap meniynya. Tentu di sini tidak melupakan pemahaman isi yang dibacanya. Kecepatan dan pemahaman isi bacaan sangat penting untuk kita miliki dalam kegiatan membaca. Sedangkan pemahaman membaca dapat kita ketahui dengan pertanyaan isi bacaan. Berapa jumlah jawaban yang benar sesuai dengan sekor setiap nomor pertanyaan tersebut dibagi sekor ideal kemudian kali seratus persen.
Rendahnya minat membaca dari para pembaca disebabkan oleh faktor kebiasaan membacanya kurang, sarana membaca kurang mendukung, buku-buku kurang di rumahnya, kurang pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif yang dimilikinya. Oleh karena itu, minat membaca agar tinggi, maka para pembaca harus memiliki dan menggunakan cara membaca tersebut.
Kecepatan dan pemahaman membaca bisa ditingkatkan dengan mengetahui metode dan teknik mengembangkan kecepatan membaca, kemudian diikuti oleh latihan yang intensif dan pembiasaan diri membaca dengan cepat, maka hanya beberapa minggu saja hasilnya akan bisa dilihat. Membaca cepat bisa kita kaitkan dengan tujuan membaca dan bahan bacaan. Membaca cepat sangat berhubungan dengan tujuan dan bahan yang kita bacanya. Materi bacaan yang tidak berhubungan langsung dengan tujuan dan bahan bacaan agar dilewati saja.
Proses membaca akan efektif apabila kita hanya membaca bahan bacaan yang berhubungan dengan tujuan membaca, bahan bacaan yang berhubungan dengan tujuan saja, mengabaikan unsure-unsur yang kurang penting, dan membuang hal-hal yang tidak diperlukan. Apa yang dibacanya hanya setiap baris bacaan berupa satuan-satuan pikiran yang ada. Satuan pikiran dalam bentuk frase, klausa atau kata-kata kunci saja.
Bukan kata demi kata sesuai dengan makna aslinya dalam kamus, tetapi kita melihat makna kata sesuai dengan konteks kalimatnya. Dengan cara demikian, kegiatan membaca dapat kita tingkatkan. Namun kecepatan membaca yang bervariasi, tergantung pada tujuan, keperluan membaca, dan keadaan bacaannya. Apa yang kita rasa kurang penting dari bahan bacaan tersebut, maka kita baca secara cepat. Ketika kita membaca apa yang kita rasa penting, maka kecepatan membaca diperlambat.


Baca Selengkapnya~~ >>
MELIHAT KEMENANGAN
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak dikelilingi oleh hal-hal yang positif (kemenangan), tetapi kenyataannya orang malah merasakan kekalahan demi kekalahan, kelemahan demi kelemahan, dan kekurangan demi kekurangan belaka. Hal-hal yang sifatnya positif tidak dirasakan seolah-olah dunia ini hanya dipenuhi kekurangan terus-menerus. Penelitian yang para ahli lakukan kekurangan demi kekurangannya bukan kelebihan demi kelebihannya. Memang banyak alasan bahwa yang diperhatikan kekurangan maksudnya untuk diperbaiki. Ada pula untuk menjadi orang nomor satu harus memperhatikan kelebihannya untuk ditingkatkan terus supaya lebih baik lagi dan menjadi sesuatu yang terbaik.
Kita dikelilingi orang rata-rata atau di bawah rata-rata. Mereka selalu memperhatikan kekurangan yang maksudnya untuk diperbaiki, sementara yang menjadi kelebihan kita dibiarkan saja. Memang pernuatan selalu memperbaiki yang kurang itu tidak salah, tetapi alangkah lebih baiknya kita memperhatikan apa yang menjadi kelebihan, potensi dan ciri khas kita. Dari manusia biasa atau rata-rata menjadi manusia lebih sempurna dibandingkan dengan yang lainnya. Kita perhatikan sekolah-sekolah yang mempunyai nama sekolah unggulan. Pada dasarnya untuk nilai terbaiknya prestasi siswa hanya satu dua orang saja, tetapi untuk ukuran rata-rata nilai sekolah tidak jauh berbeda dengan sekolah yang tidak unggul. Sekolah menjadi unggul karena diwakili oleh sedikit siswa.
Biasanya orang dalam memandang terlalu jauh, terlalu tinggi, dan terlalu melebar ke mana-mana, sedangkan hal-hal yang kelihatan sederhana kurang dihiraukannya. Kita coba sejenak mau memperhatikan yang kecil-kecil saja dahulu. Dari sikap, kebiasaan, dan pekerjaan kita awali dari yang sederhana dahulu. Kita bandingkan mana yang lebih baik hasilnya orang yang sering berdiam bingung mau melakukan sesuatu yang lebih tinggi nilainya, tetapi belum mampu mengerjakannya. Dan orang yang selalu melakukan hal-hal terkecil, tetapi ada manfaatnya. Daripada hal besar tidak dilakukan lebih baik kita mengerjakan hal kecil.
Orang yang melakukan sesuatu walaupun hal kecil dan bermanfaat menunjukkan kemenangan. Sepeda motor bersih karena dicuci lebih baik daripada sepeda motor yang tidak dicuci. Walaupun tidak kita mencuci isi mesinnya, kita dapat merasakan nyamannya sepeda motor tersebut dipakainya. Begitu juga badan kita yang dirawat meskipun hanya sebagian kecil akan lebih baik daripada badan kita yang kurang rawat. Kita melakukan perbuatan adalah proses sedangkan hasilnya bukan kita sebagai penentunya. Biarkan saja kita melakukan suatu proses yang tentu akan mendatangkan hasil sedikit atau banyak. Itulah tanda kemenangan dalam menjalani hidup dan kehidupan kita.
Banyak orang perhatiannya hanya kepada orang lain sementara keadaan dirinya dilupakan. Ada peribahasa “Gajah di pelupuk mata sendiri tidak kelihatan sementara semut di seberang lautan kelihatan.” Hal itu menunjukkan bahwa banyak orang hanya memperhatikan kesalahan atau kekurangan orang lain, tetapi jarang yang fokus pada kesalahan diri sendiri. Namun yang menjadi prioritas adalah kelebihan atau kekuatan yang ada di dalam diri kita, kemudian baru beralih pada kelemahan atau kekurannya. Akan jadilah manusia di atas rata atau manusia unggul di antara yang lainnya.
Biasanya kita setiap pagi selain bulan Ramadhan tidak pernah menulis artikel, pada bulan Ramadhan kita mampu membiasakan diri untuk menulis satu artikel bahkan lebih. Aktivitas semacam itu membuktikan bahwa kita ada pada jalur kemengan. Biasanya kita terdiam tidak mau membiasakan diri untuk membaca satu buku atau lebih setiap hari, setelah tiba waktu libur kita suka membaca buku sampai menuliskan ringkasannya, berarti kita telah berada di jalur kemenangan. Mengapa demikian? Ya, kita telah menghasilkan intisari bacaan dalam bentuk tulisan kita sendiri. Pada bulan Ramadhan tahun lalu kita melakukan puasa kurang ikhlas, dan pada bulan Ramadhan tahun ini kita mampu melakukan puasa dengan ikhlas, hal itu itu menunjukkan diri kita berada di jalur kemenangan.
Pada minggu lalu kita tidak lama terserang penyakit dan pada minggu ini kita sering sakit, pergi ke dokter, tetapi hati kita lkhlas bahwa diri kita sedang menerima ujian untuk mengukur tingkat kesabaran kita. Hal itu kita berada di jalur kemenangan. Apapun yang terjadi, baik senang maupun susah apabila dihadapi dengan rasa syukur dan sabar akan menjadi kemenangan bukan kekalahan. Kita sebagai manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang lebih sempurna. Dipersiapkan penciptaannya untuk menerima segala ujian dan cobaan melebihi makhluk lainnya. Intinya kita harus selalu berada di jalur kemenangan secara mental maupun fisik apabila kita mau dimasukkan sebagai manusia yang sempurna.
Ada yang mengatakan kita hidup harus menyadari prinsip “memberi dan menerima”. Maksudnya, antara memberi dan menerima pada hakikatnya sama. Yang memberi tidak dirugikan oleh Allah dan yang menerima juga tidak dirugikan. Manusia sebagai makhluk Allah yang lebih mulia disbanding makhlauk lainnya harus siap menerima dan melaksanakan prinsip memberi dan menerima dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ke rumah kita ada pengemis meminta beras sementara kita hanya punya satu liter, maka lebih baik memberukan beras semuanya. Kita bisa berupaya mendapatkan kembali dengan cara yang baik. Kita memberikan beras merasa bersyukur kepada Allah masih diberi kelebihan daripada pengemis tersebut. Dan pengemis merasa senang telah diberi beras.
Kata orang bijak, proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan secara mengalir. Orang-orang generasi Rasuldan Nabi tingkat kepedulian untuk memberi kepada sesama yang membutuhkannya lebih tinggi. Dapat kita perhatikan dalam riwayat, kehidupan mereka bahagia, nyaman, dan stabil walaupun zamannya belum seperti saat ini. Mereka masih ramah lingkungan dan peduli sesama. Kita sekarang boleh bertanya, apakah yang harus kita berikan? Pemberian tidak hanya dalam bentuk uang atau materi saja. Jika orang butuh rasa kasih sayang, berikanlah. Anak-anak kita sudahkah dielus rambutnya sambil kita bicara yang memotivasi dirinya? Apabila belum, lakukanlah.
Memang perbuatan itu seperti hal sepele, tetapi dampaknya sangatlah besar. Mereka akan merasa diperhatikan dan apabila mendapat masalah, kita sebagai orang tua akan dijadikan tempat curhat. Akan timbul komunikasi yang multi arah dalam memandang sesuatu serumit apapun. Kita berikan hadiah dalam bentuk materi atau dalam bentuk senyuman, elusan, doa, dan gerakan mata yang menyenangkan bagi siapa saja yang menerimanya. Terkadang perlakuan demikian terhalang oleh kekurangan uang atau banyak utang misalnya. Memang kita tidak bisa melupakan sifat manusiawinya. Namun kita tentu tidak selamanya merasa susah, sekali-kali kita merasa senang walaupun dalam situasi dan kondisi rumah tangga tidak mulus.
Berikan rasa cinta dalam arti sesuai dengan kepentingannya, berikan orang lain senyuman atau tertawa agar orang lain merasa terhibur atau rasa senang. Berikan pengetahuan untuk orang lain yang siap menerimanya. Pengetahuan yang diramu dalam betuk tulisan kita berikan kepada para pembaca sementara ada imbalannya janganlah ditolak. Begitu kita memberikan sesuatu kepada orang lain, maka di situlah imbalan dari pemberian akan datang yang tidak disangka-sangka.
Suatu kisah seorang sufi dan seorang yang sangat miskin. Sang sufi melihat orang yang pakaiannya compang-camping dan kelihatannya belum makan seharian. Sang sufi berkata di dalam hatinya: “ Ya Allah, mengapa Engkau tidak melakukan untuk orang ini?” terdengar di dalam hati Sang sufi: “ Sengaja Aku ciptakan engkau untuk orang itu.” Jadi dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita diciptakan Allah semuanya bermanfaat bisa saling memberi dan menerima dalam menjaga kestabilan hidup di muka bumi ini.


Baca Selengkapnya~~ >>
MELIHAT KEAJAIBAN
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Biasanya orang apabila mendengar keajaiban itu mesti pada hal-hal besar besar saja. Penciptaan bangunan begitu indah, mengandung sejarah, penciptaan karya-karya besar saja sementara hal-hal kecil hampir dilupakannya. Ketika kita sedang mencuci sepeda motor kita melihar perubahan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Yang pada awal sebelum dicuci sepeda motor tesebut masih kotor. Dikendarainya kurang sedap dipandang mata orang yang melihatnya, dan dipakainya juga tidak nyaman. Padahal apa hubungannya antara sepeda motor yang kotor dengan yang sudah bersih. Membersihkannya bukan mesinnya, tetapi hanya tampilan luar yang bisa dilihat dari luarnya saja. Namun apa yang terjadi? Sepeda motor kita menjadi enak dan nyaman dipakainya. Ada apa gerangan? Merupakan suatu keajaiban bagi saya walaupun hanya kelihatan masalah sepele.
Anak gadis saya menceritakan tentang pengalaman mencuci piring, dari kotor menjadi bersih, itulah keajaiban menurut saya. Perlu kita perhatikan lebih seksama lagi. Anak gadis saya suka melihat keajaiban setelah mencuci piring. Piring yang tadinya kotor dan berminyak bisa menjadi bersih dan mengkilap. Keajaiban dalam cuci piring. Sungguh tak banyak kita pikirkan. Keajaiban dalam hal-hal yang sangat sederhana. Anak gadis itu satu di antara lebih dari seratus anak yang berkumpul dan menikmati camping bidang kepramukaan waktu itu yang diadakan oleh sekolah. Dan tiba-tiba kita melihat dan merasakan keajaiban pada kumpulan anak kecil itu. Ternyata hidup adalah keajaiban.
Keajaiban tidak semata suatu peristiwa yang luar biasa, yang menakjubkan, yang menjadi buah bibir bagi banyak orang. Keajaiban itu sangatlah sederhana dan dapat dinikmati bahkan dalam peristiwa-peristiwa kecil sehari-hari. Ternyata, hidup kita ini dikelilingi oleh banyak keajaiban. Tahukah Anda? Kita saat ini sedang mengejar keajaiban, mengharapkan dan merindukan keajaiban, tetapi merasa kecewa dan putus asa karena tak pernah menemukannya, mungkin perlu belajar dari gadis cilik itu. Dengan tangan mungilnya, dia dengan tekun mencuci piring makannya dan menemukan keajaiban yang dicari banyak orang saat menikmati hasil kerjanya. Dari piring yang kotor menjadi piring yang mengkilap.
Kita banyak belajar dari peristiwa anak gadis dan pengalaman kita sendiri dari hal-hal sekecil apapun. Pengalaman anak gadis mencuci piring, kita mencuci sepeda motor, istri kita memasak di dapur, dan kita menulispun dapat menemukan keajaiban yang tidak disangka-sangka. Banyak keajaiban setelah kita melakukan pekerjaan atau aktivitas yang lebih berharga. Bahkan ketika kita berdzikir dengan waktu yang lama, maka kita dapat merasakan keajaiban-keajaiban tesebut. Keajaban ada setelah kita melakukan perbuatan atau beusaha, bukannya dating ketika berdiam diri untuk melamun atau menghayal di luar jangkauan kemampuan kita. Sekali lagi keajaiban akan menghampiri kepada setiap orang yang mau berusaha.
Mengapa kita seringkali hanya duduk diam menunggu keajaiban itu datang dengan sendirinya? Tidakkah keajaiban itu pun butuh proses kerja yang tidak ringan? Mengapa seringkali kita merasa kecewa karena disepelekan atau dianggap tidak ada? Tidakkah kita sendirilah yang perlu membuktikan keberadaan kita? Mengapa kita harus tergantung pada orang lain? Mengapa kita harus menganggap diri kita harus diperhatikan, harus dicintai, harus dipuji sebagai bukti keberadaan kita? Bukankah kita sendirilah yang harus berupaya untuk memperhatikan, mencintai dan memuji keberadaan orang lain sehingga mereka bisa tahu bahwa kita ada?
Keajaiban hanya akan muncul setelah kita bekerja keras. Setelah kita mencuci sepeda motor, setelah menulis atau mengajar bagi seorang guru dan mencangkul bagi seorang petani. Kita jangan mengharapkan bisa dating keajaiban dari berpangku tangan tanpa mau melakukan perbuatan yang berharga dan bermanfaat. Kejaiban bisa datang setelah melakukan kerja bukan berdiam hanya berhayal saja. Keajaiban itu sesederhana hidup ini. Hidup yang harus dijalani, saat demi saat, hari demi hari, dijalani dan dinikmati. Dengan mengeluh dan merasa kecewa tanpa berbuat apa-apa, kita hanya akan mendapatkan semakin banyak kekecewaan dan perasaan putus asa pun kian dalam. Dan keajaiban yang kita harapkan semakin menjauh dari kita. Dengan matanya yang berpendar indah, gadis cilik itu itu memandang piring makan yang kini mengkilap bersih setelah dia mencucinya. Inilah keajaiban itu. Inilah kegembiraan baginya. Dia tidak menunggu seseorang datang dan membersihkannya. Lalu akan merasa kecewa dan sakit hati jika ternyata tak ada yang mau membantunya untuk mencuci piringnya sendiri. Tidak. Dia bekerja sendiri. Dia berusaha sendiri. Dan menikmati hasilnya sendiri. Keajaiban ada setelah dia mencuci piringnya. Dan dia menikmatinya.
Baca Selengkapnya~~ >>
MANFAAT MENULIS BAGI PEMBACA
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Bukan menulis yang terlepas dari membaca yang saya maksud, tetapi menulis yang benar-benar bersatu-padu dengan membaca. Banyak sumber yang kit abaca, buku-buku, majalah, surat kabar sampai media internet. Semua sumber bacaan tersebut harus kita sikapi dengan semangat membaca sekaligus menuliskannya. Pada saat kita membaca, maka pada saat itu juga kegiatan menulis dilakukan. Begitu juga pada saat kita menulis dan pada saat itu juga kita membaca. Membaca dan menulis dilakukan dengan fleksibel akan bermanfaat bagi kita. Menulis itu kegiatan mengikat, mengonstruksi, menata, memproduksi, menampakkan, menggali, membuang, menjabarkan, mengeluarkan, dan membagikan.
Setelah kita banyak membaca tentu banyak pula informasi, ide-ide, ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang kita dapatkan lewat media tulisan. Untuk apa kita berupaya membaca kalau tidak untuk dimanfaatkan. Segala sesuatu kita lakukan agar mengandung nilai manfaat, baik manfaat secara fisik maupun manfaat non material. Terutama nilai ibadah harus selalu terkait sehingga setiap menulis banyak manfaatnya. Kita buktikan membaca sebuah kata saja akan bisa bermanfaat yang sangat banyak. Kita menemukan lima kata yang membekas di dalam hati, seperti kata sedih, marah, derajat, menulis, dan tuli. Sepintas kata-kata itu tidak bermanfaat padahal sebenarnya sangatlah bermanfaat bagi kita.
Kita coba fokus pada kata sedih, perasaan dan pikiran kita pada masa lalu dan masa sekarang. Mengapa kita sedih, ada apa di balik kata sedih itu, menguatkan dan memberdayakan diri kita. Jauh ke belakang bayangan kita pada peristiwa yang menyedihkan dengan upaya untuk mengatasinya melalui kerja keras belajar dan bekerja. Dapat kita buktikan hasil dari kerja keras dan belajar sungguh-sungguh itu bisa mengatasi kesedihan. Kesedihan kita ubah menjadi kesenangan dengan upaya kerja keras dan belajar tidak setengah-setengah. Terkadang dalam pelaksanaan kerja keras dan belajar keras membuat diri kita marah. Ada tekanan dari lingkungan sekitar sementara kondisi badan dan jiwa kita sedang labil atau lemah, timbul rasa marah untuk membela diri.
Apabila kita bisa mengatasi perasaan marah dengan sikap tenang dan sabar, akan mengangkat diri kita ke derajat yang lebih tinggi. Apalagi derajat yang kita rasakan yang dicapai dengan upaya menulis seoptimal mungkin. Menulis apa yang kita baca, kita lihat, kita dengar, kita rasakan, dan kita pikirkan. Sebagai guru, sebagai pedagang, sebagai petani, dan apa saja pekerjaan kita tidak ada salahnya untuk melakukan kegiatan membaca dan menulis. Apalagi bagi guru merupakan bagian kaum intelektual yang bergerak di bidang pendidikan atau pembelajaran harus aktif membaca dan menulis. Mudah-mudahan dengan kemampuan membaca dan menulis tersebut kita tidak tuli pada kebenaran. Jelas dari lima kata tersebut bisa bermanfaat menjadi pernyataan, pernyataan menjadi perbuatan, dan perbuatan menjadi kebiasaan, yang akhirnya menjadi budaya pengembangan diri lewat membaca dan menulis walaupun terbangun dari kata sedih, marah, derajat, menulis, dan tuli.
Untuk membuat pernyataan yang menggugah perasaan dan pikiran kita lebih bersemangat dalam menghadapi masalah hidup dan kehidupan kita selain seperti apa yang telah kita bahas, maka kita bisa menuliskan dalam satu konteks paragraph saja. Langsung lima kata digabung dalam satu konteks yang lebih padu. Kata sedih, marah, derajat, menulis, dan tuli kita tulis agar menjadi satu pernyataan yang bisa mensugesti diri kita. Kita hidup sebagai manusia sudah dipersiapkan pada dasarnya melebihi malaikat dengan bekal akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan keindahan agama Islam, bagi umat Islam. Manusia pertama , Nabi Adam belajar tentang nama-nama sedangkan malaikat mengetahuinya dari Nabi Adam. Hal itu menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya lebih mulia atas kelebihan akal dan hatinya daripada malaikat.
Dengan akal dan hatinya manusia harus bisa mengalahkan segala hambatan. Hambatan dihadapi dengan perasaan senang dan tenang karena ada yang menjaminnya selama kita itu komitmen terhadap keteguhan dan keyakinan kepada Allah. Jadi bukan dengan perasaan sedih, marah, khawatir, dan perasaan negatif yang berlebihan. Memang sifat-sifat kurang adalah hal yang wajar ada dari manusia. Sangat manusiawi perasaan itu ada dan melekat pada manusia, menjadi tidak wajar apabila adanya kecenderungan untuk memiliki sifat-sifat negative tersebut karena bukan syetan. Fungsi membaca adalah mengikat sesuatu yang bercerai berai atau masih dalam sempalan-sempalan ilmu dan pengalaman disatukan dengan menulis.
Menulis dalam arti mengikat bisa mengencangkan, menyatupadukan ingatan, merekam, menyimpan, dan mendokumentasikan sesuatu apa yang kita baca, kita amati, dan kita renungi agar tidak hilang dan mudah apabila kita perlukan. Tanpa adanya upaya mengikat sesuatu dari kegiatan menulis berarti yang kurang bermanfaat dalam meraih makna. Padahal meraih makna dengan menuliskan sesuatu yang berharga akan berdampak positif kepada pelakunya. Apalagi menulis yang diupayakan untuk mengonstruksikan sesuatu agar bisa tersusun rapi dan terbangun dengan kontekstual. Sepenggal ilmu akan masuk dan bercampur dengan diri kita apabila ditulis. Menulis bukan hanya mewadatahi saja, tetapi harius menyususn dan membangun Sesutu dengan baik. Susunan yang menjadi bagian diri dan merupakan cirri khas. Menulis dengan mengaitkan sesuatu pengalaman dengan hal-hal yang baru kita baca atau kita amati, renungi atau kita dengar.
Menulis harus memilki manfaat menata sesuatu yang kita baca misalnya. Bermacam-macam informasi dari dalam dan dari luar ditata sampai benar-benar bermanfaat. Penataan perabot rumah tangga seharusnya berawal dari tulisan. Diri kita, lingkungan kita dan apapun yang ada di sekitar kita ditata dengan baik agar bermanfaat praktis dalam kegiatan sehari-hari. Menulis merupakan kegiatan menata yang bisa dipertanggungjawabkan sebab ada bukti langsung berupa tulisan. Sebenarnya dapat kita jelaskan manfaat menulis yang lain, seperti bahwa menulis itu bisa dikatakaan memproduksi (menghasilkan), menggambarkan atau menampakkan, menggali orisinalitas dan keunikan jati diri kita. Dapat kita bahas nanti tentang manfaat yang dari menulis itu.


Baca Selengkapnya~~ >>
LIMA KATA AJAIB
(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)

Setelah makan sahur saya langsung menggosok gigi dan berkumur-kumur dengan obat yang sengaja saya beli dari dokter. Tidak langsung tidur, tetapi saya menyaksikan acara di televise dan kebetulan ada ceramah yang disampaikan oleh Aa Hadi. Orangnya tampak periang, kalem, sabar, dan membuat saya semakin tertarik dengan penampilan dan penyampaian materi ceramahnya. Entah apa yang membuat diri saya merasa bersemangat dan masuk ke hati setiap perkataannya. Mungkin beliau berbicara seratus persen menggunakan hati dan segenap pikirannya. Beliau mengatakan tentang lima kata ajaib yang bisa menyelamatkan diri dan disenangi oleh seluruh anggata keluarga, warga sekolah, dan keseluruhan orang yang ada di organisasi yang kita masuki.
Lima kata ajaib menurut beliau yaitu pertama, ucapkan banyak terima kasih kepada istri, anak-anak, dan orang lain yang telah membantu atau memberi perlakuan baik kepada kita. Kedua, Lazimkan kita mengucapkan kata “tolong” ketika kita perlu bantuan kepada orang lain. Ketiga, sering-seringlah kita mengucapkan maaf dengan penuh keikhlasan apabila merasa telah mengganggu atau membuat orang lain terusik. Keempat, apabila kita mau lewa, mau pergi meninggalkan orang lain, mau berbicara, dan sebagainya kita mengucapkan “permisi.” Kelima, kita harus sering mengucapkan “silakan” apabila kita mau mempersilakan orang lain berbicara atau mau melakukan sesuatu.
Dari paparan beliau kemudian saya berbicara dalam hati dan timbul dialog dengan diri sendiri. Saya merasa asyik tidak terasa waktu hampir menjelang shlalat shubuh. Tidak ada kata yang membuat diri saya bosan dan ragu atas kebenaran dan kejujuran dirinya terhadap apa yang beliau bicarakan. Ini termasuk kata-kata empati yang membuat diri kita dan orang lain saling berhubungan akrab. Akan menimbulkan perasaan nyaman berhubungan atau berkomunikasi diri kita dengan orang lain. Bagaikan kita berada di tempat yang nyaman, mendengar gemerciknya air mengalir. Suasana nyaman bagaikan kita hidup tanpa beban sedikitpun. Kondisi seperti itu akan menciptakan hubungan harmonis. Penyampaian maksud rasanya mudah terjalin dengan baik.
Siapa yang tidak apabila kita mendengar suara “Terima kasih, Bapak atau Ibu atas kebaikan Bapak atau Ibu telah membantu saya menyelesaikan tugas berat ini. Dengan bantuan Bapak atau Ibu pekerjaan ini cepat selesai dengan mudah. Mudah-mudahan Bapak atau Ibu diberi kelimpahan rizki halal oleh Allah SWT. Keluar dari hati nurani akan menimbulkan keikhlasan tertanam masuk ke dalam hati sanubari. Saya yakin semua orang yang sehat jasmani dan rohaninya akan merasa senang mendengar perkataan yang saya maksudkan. Hanya orang-orang terganggu mentalitasnya saja yang tidak senang mendengar ucapan terima kasih.
Saya merasakan nikmatnya mendengar ayah minta tolong ketika saya masih kecil dengan ucapan “Tolong Bapak bukakan pintu, Nak! Bapak mau keluar!” Walaupun dalam bentuk ucapan sederhana, saya merasa termotivasi untuk selalu membantu ayah ketika ayah mau bekerja atau ketika kiranya perlu bantuan saya. Pekerjaan berat sekalipun saya rasakan ringan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Pekerjaan demi pekerjaan atas dasar kata minta pertolongan yang diucapkan oleh orang yang ikhlas terselesaikan dengan semangat yang tinggi. Apalagi kita terapkan di tempat kerja, di rumah, dan di lingkungan di mana kita hidup. Sungguh ajaib kata “tolong” yang dilontarkan oleh orang yang memiliki empati.
Ucapan maaf setelah kita melakukan kesalahan terhadap orang lain atau sebelum dan sesudahnya saya melakukan sesuatu sangat besar pengaruhnya terhadap orang yang ada di sekitar kita. Perkataan maaf menunjukkan sifat dan sikap orang yang pemaaf terhadap sesama. Menunjukkan bahwa orang yang berbicaranya memiliki hati bersih, ikhlas, tawadlu, rendah hati. Orang semacam itu akan mudah diajak bergaul atau berkomunikasi. Apabila kita belum memiliki sifat dan sikap demikian, maka kita perlu meneladaninya sekuat tenaga. Karena perbuatan semacam itu akan membuat jiwa aman dan nyaman. Apabila diprediksi orang semacam itu jauh dari sikap mendhalimi orang lain. Tidak sebagaimana orang-orang yang bergerak di dalam politik praktis. Perlu kita waspadai.
Apa ruginya kita mengucapkan “permisi” ketika kita mau melewati kumpulan orang? Apa ruginya kita mengucapkan “permisi” apabila mau berbicara di depan orang-orang? begitu seterusnya kita bertanya-tanya kepada Anda dan diri saya sendiri. Dari kata tersebut akan berkesan kepada orang yang mendengarnya sebagai orang yang selalu menghargai orang lain. Tidak egois dan angkuh dalam memperlakukan orang lain. Ada perasaan prinsip “menang dan menang”, maksudnya, dalam komunikasi dua arah atau banyak arah, kata “permisi” sewaktu kita akan bicara akan menimbulkan orang yang akan mendengarkan pembicaraan kita dengan penuh ketulusan. Begitu juga apabila kita mendengar kata “ Silakan, Bapak atau Ibu, saudara, teteh kita cicipi makanan ini!” Bukan banyak dan sedikitnya, enak dan tidaknya makanan yang akan kita makan tersebut, tetapi perasaan senangnya yang terpenting. Kita perhatikan makanan ringan yang dibungkus dengan kualitas yang menarik. Walaupun isinya sekedar goreng jagung rasanya enak melebihi goring jagung biasa tanpa tampilan menarik.
Begitu pula halnya dengan diri kita akan membentuk satu paket menarik apabila dikelola dengan bahasa dan sikap yang menarik, di antaranya menggunakan lima kata ajaib di atas. Bukan kekayaan, uang banyak, dan jabatan tinggi yang bisa menjamin suksesnya diri kita. Hanya sikap, budi bahasa, dan penataannya yang baik saja yang akan membuat diri kita disenangi orang lain. Sekali lagi apabila kita mau berubah keadaan hubungan antar sesama, maka kita mulailah mempraktekkan lima kata ajaib yang pernah saya dengar dari Ustad kita, yaitu Aa Hadi. Selamat Pak Ustad! Semoga Bapak selalu bertambah keikhlasannya dalam menyampaikan ceramahnya. Membuat orang banyak mengalami pencerahan dari keaadaan gelap menjadi terang, dan dari keadaan terang semoga bertambah terang saja yang akhirnya tanpa hisab yang menghalangi pandangan kita. Amiiin…
Baca Selengkapnya~~ >>
KOMITMEN DALAM MENULIS
(Jajang Shendi, Cikedal-Pandeglang)

Sebelum tahu manfaatnya dari suatu kegiatan, setiap orang tidak akan mau mengerjakan kegiatan tersebut. Apapun yang kita kerjakan sebelum kita mengetahui apa maknanya, tujuannya, pengaruhnya, dampak positifnya, dan apa saja kita tidak akan mau pula mengerjakan kegiatan tersebut dengan penuh komitmen. Betapa pentingnya pengaruh komitmen terhadap segala sesuatu dalam upaya peningkatan kualitas dan produktivitas diri. Kita dilahirkan oleh seorang ibu yang penuh kasih sayang mengurus anaknya. Kita dilahirkan sebagai pemenang dari ribuan atau jutaan sel sperma. Oleh karena itu sebagai manusia dilahirkan utuk menjadi pemenang, bukan untuk menjadi pecundang.
Terkadang dalam hati kita suka ada bisikan untuk apa kita bekerja sebagai Pegawai Negeri yang pada akhirnya cuman banyak utang saja. Untuk apa payah-payah kita bekerja sementara anak-anak yang diperjuangkannya hampir selesai kuliahnya. Untuk apa payah-payah kita bekerja sementara kebutuhan biaya anak-anak sudah hampir selesai. Dan begitu banyak bisikan yang sifatnya negatif mengganggu pada pikiran dan perasaan kita. Hampir-hampir mempengaruhi sikap dan perbuatan sehari-hari. Cukup melelahkan apabila bisikan-bisikan tersebut dihadapi tanpa pemikiran dan perasaan selektif.
Adapun standar minimal untuk mengukur apakah bisikan tersebut baik atau tidak sangat ditentukan oleh kematangan diri kita. Mestinya kita banyak belajar dan berlatih untuk mematangkan standar pemikiran dan perasaan kita dengan banyak berdoa, berdzikir, dan instropeksi diri dalam berbagai situasi dan kondisi. Walaupun kita tidak memahami ayat-ayat Al-Qur’an, mestinya kita banyak membacanya. Mesti kita banyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, shalat wajib dan sunatnya, tafakur dengan pendekatan meditasi yang penuh keikhlasan.
Bukan banyaknya yang kita lakukan dengan komitmen, tetapi kelanggengannya. Biarpun kegiatan tersebut sedikit, tetapi dilakukan dengan sepenuh hati dan sedikit yang dilakukan dengan komitmen akan menghasilkan sesuatu. Kita ambil salah satu contoh apabila kita komitmen pada kegiatan menulis, maka menulis itu akan menghasilkan karya tulis (artikel, makalah, atau buku), akan menghasilkan penghargaan dari para pembaca aktif, dan akan menghasilkan imbalan uang yang memadai demi kelangsungan hidup kita sebagai penulisnya.
Hanya perbuatan yang setengah-setengah saja yang berdampak negatif atau minimalnya hidup tidak menghasilkan apa-apa. Teringat Pak Hernowo dengan Buku Mengikat Makna Up Datenya, beliau mampu menulis dengan komitmen yang tinggi mampu menghasilkan beberapa buku yang berkualitas. Buku-buku yang sarat akan makna baru, yang belum pernah ada sebelum beliau yang bisa memadukan antara menulis dan membaca. Saya juga merasa yakin dengan komitmen yang tinggi dalam hal menulis sebagai tindak lanjut dari banyak membaca, kita akan mampu menjadi pribadi sukses dalam bidang tulis-menulis.
Sebagian besar orang hanya menjadi manusia rata-rata selain menjadi manusia di bawah rata-rata. Kita sudah tahu bahwa menjadi manusia rata-rata tidak produktif, bahkan konsumtif. Hanya mengandalkan orang lain merasa iba dan mau menolongnya. Padahal setiap orang mempunyai kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Sebagai seorang guru, misalnya, sangat mengharapkan kenaikan gaji dari pemerintah pada waktu terjepit dengan kekuranan penghasilan lain. Atau ketika banyak biaya sekolah atau kuliah anak-anaknya sebagian guru selalu mengharap dari pihak lain. Belum menjadi solusi bagi kita ingin menambahnya penghasilan dengan memohon kenaikan gaji tanpa mau mencoba membuat sumber penghasilan lain di luar gajinya.
Saya merasa yakin kegiatan menulis yang penuh komitmen akan menjadi salah satu solusi untuk menciptakan sumber penghasilan yang sangat besar. Kita bercermin kepada para penulis senior yang produktif menghasilkan buku atau beragam tulisan di internet. Bahkan selain menulis buku mampu menjadi editor dan penerbit yang kaya raya. Sangat saya yakini bahwa komitmen dalam bidang kepenulisan akan membuahkan hasil yang membuat pelakunya kaya raya. Asalkan tidak hanya menjadi bahan pembicaraan saja, tetapi harus dipraktekkan. Untuk apa seandainya kita banyak ilmu pengetahuan tentang kepenulisan tanpa banyak kita melakukan menulis.
Baca Selengkapnya~~ >>