Minggu, 07 April 2013

CARA MENGATASI SISWA YANG MALAS BELAJAR



Saya ngobrol dengan para guru di SDN Babakanlor 4 UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Cikedal Kabupaten Pandeglang pada saat istirahat pertama. Tujuannya saya minta masukan dari mereka tentang bagaimana cara mengatasi siswa yang malas belajar dan cara mengembangkan kemampuan siswa yang berprestasi. Untuk memudahkan mereka berpendapat, maka saya sebagai Kepala Sekolah memberikan dua pertanyaan, sebagai berikut:

1. Bagaimana cara mengatasi siswa yang malas belajar?
2. Bagamana cara mengembangkan kemampuan siswa yang berprestasi?

Ada tiga orang guru yang langsung memberikan jawaban pertanyaan pada hari Jumat, 5 April 2013, yaitu (1) Djamah Suhasiah, seorang guru lulusan D.2 PGSD Universitas Terbuka (UT), (2) Eros Rosita, S.Pd.I, seorang guru kelas 3, dan (3) Asbahi, S.Pd.

seorang Sarjana S.1 jurusan PJOK. Jawaban atas pertanyaan yang saya buat tersebut akan saya jadikan bahan penulisan artikel. Semoga bisa menjadi sumber literatur bagi para pembaca yang berniat untuk mengatasi dua hal tersebut.
Yang akan saya kembangkan adalah jawaban atas pertanyaan nomor (1) Bagaimanakah cara mengatasi siswa yang malas belajar?

Djamah Suhasiah berpendapat, sbb:

Anak harus dibujuk dan dipanggil oleh guru lalu diberikan pengarahan dan bimbingan agar anak mau belajar, khususnya membaca dan berhitung (Calistung) di sekolah. Biar anak tidak malas lagi belajar.

Tentu pendapat ini sebagai pengalaman yang pernah beliau alami sewaktu mengajar atau mendidik siswa di kelas rendah. Sebab dalam jawaban tersebut ada kata kunci “Calistung.” Memang calistung merupakan hal pokok yang harus lebih diprioritaskan sebelum para guru melakukan tugas mengajar dan mendidik bagi para siswa. Siswa kelas rendah lebih suka dibujuk, dielus, dan diperlakukan sebagai anak kecil daripada diperlakukan sebagaimana anak-anak kelas tinggi di SD.

Siswa kelas rendah lebih suka diberi pengarahan dan dibimbing supaya mereka mau belajar, khususnya belajar membaca, menulis dan berhitung. Sementara siswa kelas tinggi akan lain lagi cara memperlakukannya. Sekarang tinggal bagaimana cara membujuk, memanggil, memberi pengarahan dan membimbing siswa agar tidak malas belajar.

Pendapat akan tinggal pendapat seandainya tanpa dipraktekkan. Oleh karena itu Bu Djamah Suhasiah di kantor SDN Babakanlor 4 menjawab atas pertanyaan yang saya lontarkan berdasarkan pengalaman pribadinya. Saya sangat mendukung pengalaman beliau dan bisa diterapkan oleh kalangan guru kelas rendah di SD.

Sementara Eros Rosita, S.Pd.I berpendapat, sbb:

Cara mengatasi siswa yang malas belajar langkah pertama kita sebagai guru harus mengetahui latar belakang penyebab siswa tersebut malas belajar. Apabila dalam keluarga siswa tersebut kurang dukungan, maka kita meminta kepada keluarga untuk memberikan dukungannya. Dan apabila siswa tersebut belajar di sekolah kita beri motivasi atau bimbingan yang lebih supaya anak tersebut mau dan mempunyai semangat untuk belajar.

Memang guru harus mengetahui latar belakang siswa. Sebagai guru jangan memperlakukan siswa secara seragam. Para siswa datang ke sekolah dari berbagai latar belakang yang berbeda. Latar belakang pendidikan orang tua, latar belakang ekonomi orang tua, dan latar belakang sosial budaya orang tunanya yang beraneka ragam. Guru tidak boleh menyamaratakan perlakuan terhadap siswanya masing-masing.

Sebagai guru sangat tidak bijaksana seandainya memperlakukan siswa secara sama. Siswa yang malas belajar belum tentu karakternya yang pemalas. Bisa saja siswa malas karena keadaan di rumah tangga orang tuanya tidak nyaman. Ayah dan ibunya sering bertengkar, penceraian kedua orang tua bisa mengakibatkan anak malas belajar. Belum lagi siswa malas mungkin sedang sakit. Dan masih banyak hal yang bisa mengakibatkan siswa malas belajar.

Sungguh tidak bijaksananya seandainya guru marah-marah ketika seorang siswa hanya kesiangan satu kali sewaktu guru tersebut sedang punya masalah yang terbawa-bawa dari rumahnya. Siswa yang menjadi sasaran kemarahan guru. Mentalitas siswa merupakan modal dasar yang harus kita perhatikan. Mentalitas siswa yang pada dasarnya baik jangan dirusak dengan cara guru yang salah dan tidak mengenai sasaran.

Jangan sampai guru merusak secara pelan-pelan atau sekaligus mental siswa yang sedang tumbuh dan berkembang. Perlakuan guru yang baik sangat mempengaruhi semangat belajar siswa di sekolah maupun di rumahnya. Sedangan perlakuan guru yang buruk akan merusak semangat belajar siswa. Pendapat Bu Eros Rosita, S.Pd. sangat baik kita perhatikan dan kita praktikkan. Sebab bagi guru mengetahui latar belakang siswa sangatlah penting diperhatikan sebelum pada pemberian materi pembelajaran.

Oleh karena itu, sebelum sampai pada situasi dan kondisi siap belajar siswa, maka para guru hendaknya memperhatikan latar belakang siswa pada saat itu. Walaupun pada waktu sebelumnya, seorang siswa bisa saja rajin sedangkan keesokan harinya menjadi malas. Kondisi dan situasi siswa relatif cepat berubah, di sinilah pentingnya pengalaman guru dalam setiap menghadapi para siswa yang dibimbingnya.

Tugas mengajar ataupun mendidik siswa tidak sekedar memindahkan materi dari buku ke otak siswa saja. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan guru agar siswa rajin belajar. Di antaranya pemahaman guru terhadap latar belakang siswa.
Dalam keluarga siswa bisa kurang dukungan ayah dan ibunya di rumah. Peran orang tua sangat penting dalam upaya meningkatkan semangat belajar siswa. Orang semestinya mendukung akan upaya belajar siswa di sekolah dengan banyak memotivasi anak-anaknya belajar di rumah.

Setiap malam orang tua harus banyak bertanya apakah ada atau tidaknya Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan guru pada waktu siangnya. Apabila ada di sinilah peran pentingnya orang tua untuk membimbing anak-anaknya mengerjakan PR-nya. Selain dukungan materi, orang tua harus membimbing dalam memotivasi siswa dalam belajar di rumah.
Sementara Asbahi, S.Pd. mengatakan, sbb:

Dengan melalui pendekatan bermain, siswa dapat meningkatkan motivasi atau termotovasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Dari materi yang diajarkan dengan alat peraga yang sebenarnya bisa dimodifikasi. Contoh (1) Bola Voly dimodifikasi dengan bola plastik, balon atau bola karet, (2) Bola sepak dimodifikasi dengan bola plastik, bola karet dan lapangan diperkecil, dan (3) Lapangan voly bisa dibagi menjadi empat kotak atau lapangan diperkecil.

Pendapat di atas bisa saja diterapkan pada mata pelajaran yang lain yaitu dengan memodifikasi alat peraga yang berintegrasi dengan pendekatan permainan. Pada dasarnya siswa masih anak-anak yang lebih suka permainan. Alangkah lebih baiknya apabila pendekatan permaianan memasuki arena pembelajaran di sekolah maupun di kelas. Sementara pendapat di atas untuk pembelajaran olah raga sangat sesuai menggunakan pendekatan permaianan dengan strategi memodifikasi alat peraga atau media pembelajaran yang lainnya.

Pada mata pelajaran IPA guru dapat mengganti alat peraga langsung matahari dengan bola voly, jeruk dan benda lainnya yang bentuknya bulat. Pada mata pelajaran matematika, guru dapat memodifikasi bangun persegi panjang, bangun ruang, bilangan pecahan, bilangan bulat, dan materi lain dengan pengganti yang mudah didapatkan. Dan digabung dengan pendekatan permainan tersebut.

Ternyata pendapat guru sangat membantu dalam pemecahan permasalahan pembelajaran di kelas atau di sekolah. Saya sebagai seorang Kepala SD harus lebih mengutamakan pendapat, komentar, dan tanggapan bagaimana cara mengatasi siswa yang malas belajar di berbagai bidang atau mata pelajaran yang disampaikan di tempat kerjanya masing-masing. Sementara sekian saja dulu tulisan sebagai jawaban para guru tentang cara mengatasi siswa yang malas belajar. Sementara cara mengembangkan kemampuan siswa yang berprestasi akan saya sampaikan pada kesempatan lain.

1 komentar:

Eka C.G ( Jangan Lupa berkunjung ke Blogku ya Teman ^_^ ) mengatakan...

susah banget untuk mengatasi rasa malas itu...hmmmmmm

Poskan Komentar