Sabtu, 06 Oktober 2012

BUDAYA BERBICARA DAN BUDAYA MENULIS


(Jajang Suhendi, Cikedal-Pandeglang)


Ketika kita dilahirkan kemampuan yang pertama kali dapat kita lakukan adalah kemampuan mendengar dan berbicara. Walaupun belum kita sadari bahwa hal itu keterampilan berbahasa yang akan dikembangkannya. Sewaktu masih bayi, kita sudah mampu bersuara dan menangis. Hampir dilupakan bahwa kemampuan bersuara tersebut sebagai langkah awal kemampuan kita dalam berbicara. Berbicara apabila kita kembangkan dengan sebaik-baiknya akan membuat diri kita hidup lebih efektif. Coba kita bayangkan betapa berabenya apabila berbicara dengan orang yang tidak saling memahami bahasa yang kita gunakan masing-masing.


Komunikasi timbal-balik dengan bahasa yang tidak kita kuasai tidak akan terjadi. Namun sampai dewasa juga kemampuan berbicara kita hampir tidak disadari manfaat dan tujuannya. Berbicara tanpa arah dan tujuan biasanya orang-orang lakukan. Mengapa tidak kita sadari menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi diri kita dan bagi diri orang lain. Selama berbicara tersebut ada manfaatnya, maka sangat baik kita kembangkan menjadi ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang lebih efektif.


Sungguh sangat disayangkan, sebagian orang tidak memanfaatkan berbicara sebagai media komunikasi yang produktif. Dengan mengembangkan kemampuan berbicara, seseorang bisa menjadi pembicara di depan orang banyak. Para trainer dengan gagahnya mampu disenangi para pendengar di dalam seminar, diklat, dan pelatihan lainnya. Setelah mereka berbicara mendapat imbalan uang yang besar. Seolah-olah berbicara sebagai tugas profesi yang digelutinya.


Yang patut disayangkan pula, kita tidak mengembangkan kemampuan berbicara seperti apa yang saya katakana di atas. Sebagian besar waktu dan kesempatan kita gunakan untuk berbicara tanpa karuan. Berbicara ngalor-ngidul tanpa arah dan tujuan. Bergunjing, bergurau tanpa makna, dan sebagian materi pembicaraanya tanpa rencana yang produktif. Sunggu manusia dalam kerugian apabila hidupnya sekedar bergunjing dan membicarakan kejelekan orang lain. Sibuk membahas kelemahan para pemimpin tanpa kita sadari kelemahan diri sendiri dilupakannya. Dari berbagai usia dan kalangan orang sibuk dengan pembicaraan yang kering akan makna. Padahal seorang manusia baru dikatakan bermakna apabila berguna dalam upaya beribadah dan beramal kebaikan di muka bumi ini. Belum lagi waktu dan kesempatan baiknya tersita dengan banyak tidur.


Berbicara secara lisan mempunyai kekuatan tidak melebihi kekuatan menulis. Berbicara yang bermakna secara lisan bermanfaat kepada pelaku dan orang yang diajak berbicaranya, Kekuatan berbicara hanya selama masih didengar oleh orang yang diajak berbicara. Masih terikat oleh ruang dan waktu, walaupun sekarang sudah ada rekaman tidak sekuat menulis dampaknya. Memang kemampuan berbicara patut kita kembangkan dengan penuh antusias apabila masih ada kesempatan untuk melakukannya. Namun alangkah lebih baiknya, kita memiliki emampuan berbicara secara lisan dibarengai dengan menuliskannya apa yang sudah kita bickarakan tersebut. Lebih lengkap kekuatannya, berbicara dan menulis apabila dikembangkan secara bersamaan atau bergantian.


Dua kemampuan kita lakukan secara bergandengan tanpa ada yang dianaktirikan perlakuannya antara berbicara dan menulis tersebut. Namun kita masih bisa memperlakukan menulis yang lebih diprioritaskan apabila kita memiliki potensi menulis. Biasanya orang pandai berbicara lemah dalam menulisnya. Jangankan menulis artikel atau buku, mereka menulis karangan sederhana untuk contoh karangan anak SD juga tidak mampu. Apabila terpaksa harus menulis ketika ada tugas di dalam diklat, seseorang yang pandai berbicara di muka umum, mereka tidak mampu. Mengapa demikian? Tinggal dijawab saja oleh yang bersangkutan mengapa bisa terjadi semacam itu.


Ada orang yang pandai berbicara berupaya menulis di majalah atau surat kabar. Mereka bertitel minimal sarjana S.1 menulis sulit untuk dimengerti, karena tulisannya tidak berdasarkan tata cara menulis yang baik. Mereka menulis kaku tidak seperti para penulis modul yang digunakan sebagai materi perkuliahan di FKIP UT. Bagi kita yang belum mampu menulis dengan baik, maka modul-modul tersebut harus dipelajari dan dipraktekkan mulai saat ini pula. Bisa dijadikan standar penulisan bagi para penulis pemula. Daripada kita banyak membaca dan mempelajari orang-orang bertitel yang belum memadai dalam hal tulis-menulisnya.


Memang bagi kita tidak menjadi masalah untuk membaca tulisan orang-orang yang kurang baik bentuk dan isi pemaparannya, tetapi apabila tanpa kita banyak berlatih membaca dan menulis dari para ahli kebahasaan kita lambat untuk menguasai dunia tulis-menulis. Sementara zaman sekarang adalah zaman informasi apabila kita tanpa banyak belajar dan berlatih masalah kebahasaan akan jauh tertinggal. Oleh karena itu mari kita mulai saat ini pula untuk banyak belajar dan berlatih menulis apa yang kita bicarakan, apa yang kita dengar dari rekan kerja atau anggota keluarga kita, dan banyak bergelut di dunia kata-kata. Idealnya kita mampu berbicara sekaligus menulis. Apabila harus dipilih bagi yang lebih cocok berbicara, maka kembangkanlah kemampuan berbicaranya. Dan apabila bagi orang yang lebih cocok menulis, maka kembangkanlah menulisnya.


Biasanya orang tidak memilih salah satu dari dua kemampuan berbahasa tersebut. Padahal apabila kita memilih salah satu, berbicara atau menulis menjadi prioritas utama, maka hubungan kita akan lebih lancar. Manfaat kita terhadap orang lain dalam huungan dengan komunikasi akan semakin meningkat. Kita akan lebih unggul dalam berkomunikasi. Seorang pembicara yang propisional akan banyak menghasilkan uang dan menghasilkan penghargaan dari orang pada umumnya. Begitu juga seorang penulis yang profesional akan menghasilkan uang dan penghargaan pula. Oleh karena itu bagi siapa saja yang sudah merasa penting salah satu atau kedua ketemapilan berbahasa (berbicara atau menulis) dikembangkan menjadi satu kekuatan diri. Kekuatan dalam meningkatkan hubungan manusiawi dan hubungan vertical kepada Allah dalam bentuk dialog secara membatin lewati berbicara tak bersuara atau menulis secara pribadi sifatnya.


Apapun kegiatan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula apabila kita kembangkan secara sungguh-sungguh. Perbuatan yang dilakukan penuh kesungguhan akan menghasilkan. Berbeda perbuatan yang dilakukan dengan setengah-setengah akan menghasilkan sesuatu yang baik. Seumpamanya kita akan mengembangkan keterampilan menulis sebagai kegiatan sampingan dari kegiatan mendidik(mengajar), maka hasilnya nanti akan mampu menyaingi kegiatan pokok sebagai pendidik atau pengajar di sekolah. Keterampilan menulis yang dikembangkan akan membuat pelakunya mampu menjadi guru sekaligus penulis dalam satu pribadi yang lebih unggul. Pada suatu saat kita menjadi guru profesional dan pada saat yang lain kita menjadi penulis profesional. Sumber penghasilan akan meningkat dari penghasilan gaji ditambah penghasilan dari menulis. penghasilan dari menulis artikel atau penghasilan dari menulis buku.


Keuntungan secara finasial dan keuntungan secara sosial dan spiritual akan kita dapatkan setelah kita benar-benar memiliki kemampuan berbicara dan menulis yang dikembangan. Saya menyadari baru saat-saat ini betapa pentingnya kita mengembangkan kemampuan berbicara dan menulis dengan baik. Pengembangan salah satu atau pengembangan keduanya akan membuat diri kita terangkat secara cepat. pada awalnya kita tidak dikenal oleh banyak orang akan cepat dikenal secara cepat oleh banyak orang. Tulisan kita dibaca orang di dalam majalah bulanan tingkat kabupaten, propinsi, atau tingkat pusat. Mudah-mudahan dengan banyaknya tulisan yang kita hasilkan di media masa, maka kita akan cepat dikenal. Namun kita jangan merasa berbangga diri dengan cepatnya dikenal orang, bahkan kita harus semakin merendah agar sifat lupa diri dapat dihindari.


Baru beberapa bulan saja saya menulis artikel dan secara sepintas saya menulis sebuah buku sudah terlaksana tanpa halangan yang sulit dilalui. Tanpa banyak saya mempelajari ilmu kebahasaan saya rasanya lancar menulis. berbeda ketika saya banyak pertimbangan tata bahasa sebelum menulis. egitu saya menulis beberapa paragraf langsung saya memperbaiki dan timbul perasaan tulisan saya tidak layak dilanjutkan. Beberapa puluh dan mungkin beberapa ratus judul telah aku tuliskan tidak dilanjutkan, karena merasa takut salah dan ditertawakan pembaca. Mungkin sampai kapanpun tulisan saya tidak akan jadi-jadi. Bergitu Anda juga akan merasakan hal yang sama apabila menulis hanya didasari perasaan setengah-setengah akan tidak pernah jadi sampai kapanpun. Oleh karena itu mari kita bersama-sama di tempat yang berbeda kita memulai untuk banyak menulis artikel minimalnya menulis hanya beberapa paragraf saja. Terpenting menulis yang memberdayakan diri sendiri sambil memberdayakan orang lain yang mau membaca.


Ketika saya banyak bengong tanpa mau menulis, setiap saya termenung, berpikir, merasakan sesuatu, diskusi, berpendapat, dan kegiatan apa saja diakhiri sikap pasif dan sifat masa bodoh. Tidak banyak yang aku lakukan dengan aktivitas yang menyenangkan. Yang diarasakan hanya penyakit dan penyakit pusing saja. Dalam pikiran saya terbersit bahwa penyakit jasmaniah maupun rohaniah banyak diakibatkan oleh pikiran dan perasaan yang salah akibat saya tidak mau menuliskan apa yang saya rasakan. Berbeda setelah saya banyak menulis di netbook, saya merasa banyak sehatnya daripada banyak sakitnya. Ternyata kegiatan menulis menyehatkan jiwa dan raga saya. Menulis bisa menjadi obat yang ampuh dalam menyembuhkan penyakit.


Menulis merupakan solusi terbaik bagi kesehatan lahiriah dan batiniah saya dan begitu juga Anda akan merasakan sesuatu yang sama dengan diri saya. Menulis beberapa kalimat saja dengan landasan hati yang ikhlas dan sungguh-sunggu mau menjadikan tulisan sebagai sara pengobatan akan lebih bermanfaat. Perasaan sedih, khawatir, dan perasaan negatif lainnya akan bisa disembuhkan dengan menuliskan apa yang sedang kita rasakan. Menulis perasaan negatif seolah-olah sedang mengupayakan penyembuhan penyakit. Apabila kita merasa sedih, ,maka segeralah menuliskan apa yang dirasakan sedihnya. Lambat laun perasaan sedih hilang tanpa kita cari apa penyebabnya. Di balik perasaan sedih yang dituliskan ternyata mengandung pengobatan yang sangat ampuh. Pulang belanja bersama anak, saya merasakan sakit kepala yang bukan kepalang sakitnya. Saya mencoba membuka netbook dan meneruskan pengetikan artikel tulisan ini. Sakit kepala saya hilang entah hanya perasaan saja atau apa saja saya tidak mempersalahkannya. Buktinya saya merasa nyaman untuk menulis dan tidak merasakan sakit kepala tersebut.


Suatu keajaiban bagi saya, menulis yang dilakukan dengan penuh semangat walaupun saya sedang merasakan sakitnya kepala. Di sinilah pentingnya kita melakukan konsentrasi pada satu masalah yaitu menuliskan tentang sesuatu yang dirasakan perlu untuk dituliskan. Apabila saya bandingkan mana yang banyak membawa pengaruh positifnya antara berbicara dengan menulis, maka saya akan memilih menulislah yang lebih banyak membawa pengaruh positif terhadap semangat mengekspresikan isi hati dan isi pikiran. Rekan-rekan guru marilah mulai saat ini pula untuk banyak menulis yang berisi pemecahan masalah atau apa saja yang dirasakan akan memberi pengaruh kepada orang yang mau membaca. Jangan badan kita saja yang diberi makan, otak dan hati juga harus diberi makanan dengan buku-buku atau tulisan yang bermanfaat. Makanan otan dan hati dengan bantuan bagaimana cara meramu makanan tersebut menjadi makanan yang enak dan mengandung gizi yang baik. Itulah menulis kita ibaratkan sebagai cara meramu makanan agar enak dan menyehatkan untuk kesehatan badan lahiriah dan batiniah. Selamat mencoba dengan antusias yang tinggi.

0 komentar:

Poskan Komentar