Jumat, 24 Agustus 2012

Budaya Menulis di Kalangan Guru?

komunitaspendidikan.com/index.php/.../budaya-menulis-di...guru/11...

“Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya.” (Stephen King)


Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana peningkatan, pengembangan kualitas sumber daya manusia dan faktor penentu keberhasilan pembangunan. Hal ini dijelaskan dalam UUD 1945 yang mengamanatkan pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun permasalahan pendidikan di Indonesia sampai hari ini nyatanya tidak kunjung selesai walaupun beberapa usaha telah dilakukan oleh pemerintah. Digulirkannya otonomi pendidikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah juga belum mampu menyelesaikan persoalan pendidikan secara signifikan. Permasalahan pendidikan dewasa ini begitu komplek dan membutuhkan banyak waktu, tenaga, biaya dan sumberdaya dalam menyelesaikanya. Persoalan pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari rendahnya kualitas sumber daya guru. Sebagai indikator yang menunjukan rendahnya kualitas sumber daya guru tersebut di antaranya adalah lemahnya budaya tulis menulis para guru di Indonesia.

Keterampilan yang Terabaikan
Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali, bukan ?

Upaya-upaya pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui Kementerian Pendidikan belum bisa mengangkat motivasi guru untuk menulis. Tak heran dalam dunia pendidikan Indonesia, terutama sekolah, banyak menemui kesulitan melakukan inovasi bahan ajar. Selain itu, dunia pendidikan mengalami kekurangan sumberdaya guru yang mampu menulis karya ilmiah dan hasil tulisan guru dalam bidang masyarakat secara umum di media juga masih langka.

Perubahan kurikulum sekolah dari kurikulum 1994 dan KBK menjadi KTSP menuntut guru mampu mempersiapkan bahan ajar sesuai dengan kondisi lokal. KTSP juga menuntut sekolah mampu menyediakan bahan ajar yang mengadopsi materi yang disesuaikan dengan kekhasan setiap daerah masing-masing. Hal ini tidak akan dapat tercapai jika masing-masing daerah tidak mampu mengembangkan guru agar bisa menulis bahan ajar secara mandiri dengan kualitas yang baik. Perlu dipahami, sebagian besar buku pelajaran yang berasal dari penerbit sekarang ini, memiliki latar atau setting daerah tertentu yang tidak semuanya cocok diaplikasikan di daerah lain.

Padahal, guru adalah figur potensial untuk mengungkap banyak hal dalam kehidupan ini. Selain mempersiapkan bahan ajar, seorang guru harusnya juga tergelitik untuk mengungkap dunia pendidikan yang menyajikan banyak hal yang bisa ditulis sebagai bahan rujukan perbaikan kondisi masyarakat. Pada kenyataanya, hanya segelintir saja guru yang terampil menyajikan sebuah tulisan tentang dunia pendidikan dan dunia masyarakat secara umum.

Diagnosa Permasalahan
Benarkah menulis sulit di kalangan guru? Jawabannya tentu beragam. Tetapi kenyataan kita temui masih sedikit karya/tulisan guru menghiasi media massa atau jurnal. Kurangnya tulisan karya guru ini didasari oleh beberapa kendala di antaranya: Pertama, Kurangnya motivasi di kalangan guru untuk menulis. Tidak sedikit rekan guru yang telah memiliki atau mengantongi masa kerja yang demikian lama atau “guru senior” yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, enggan untuk menulis.

Kedua, Kurangnya keberanian guru untuk menulis. Kondisi guru di mana guru tidak memiliki keberanian benar-benar terjadi manakala guru merasa sedikit pengetahuan dan pengalamanya atau terbatas idenya dibandingkan dengan pembaca atau sebelum menulis, guru sudah merasa minder sebelum menulis. Padahal sebenarnya guru memiliki segudang ide untuk ditulis mulai dari buku/bahan ajar, metode/ strategi pembelajaran, peserta didik dan perkembanganya yang unik dan sebagainya. Hal lain yang menjadi pemicu kurangnya keberanian menulis adalah adanya kesalah pahaman akan suatu pengertian bahwa guru dituntut memiliki loyalitas yang tinggi yaitu taat pada atasan atau pimpinan, sehingga takut mengungkapkan gagasan yang mungkin dianggapnya menyimpang dari kebijaksanaan atasan. Kondisi di mana pandangan guru yang loyal adalah guru yang mentaati semua kemauan dan perintah atasan ini turut mempertajam kondisi guru kurang berani mengemukakan pendapat atau gagasannya atau menujukkan otoritas pribadinya melainkan cenderung mengikuti alur berpikir atasannya. Hal ini keliru, semestinya loyalitas guru ditujukan kepada negara sesuai dengan aturan perundangan.

Ketiga, seorang guru belum memanfaatkan atau belum mengoptimalkan media yang tersedia. Perkembangan dunia pendidikan dewasa ini demikian pesatnya, sekolah-sekolah sekarang ini sudah memiliki fasilitas yang lengkap mulai dari ruang kelas, alat peraga, fasilitas perpustakaan, bahkan lebih canggih lagi adanya fasilitas teknologi informatika dengan internet dan hot spot-nya. Namun sayang kelengkapan fasilitas tadi sering belum dapat dimanfaatkan sebagai referensi atau pendukung upaya menulis. Ada ungkapan “penulis yang baik berawal dari pembaca yang baik”. Kita dapat memanfaatkan perpustakaan sekolah atau bahkan memanfaatkan perpustakaan pribadi sebagai referensi. Andaipun perpustakaan sekolah kurang bahan referensi, guru bisa mengunjungi perpustakaan yang ada di kota kecamatan atau kabupaten. Jikapun masih sulit, guru bisa berselancar melalui internet.

Akhirnya, menulis harus menjadi suatu tuntutan, kebiasaan, sekaligus kebutuhan bagi guru. Menulis menjadi bagian dari pengembangan profesi guru. Guru jika ingin naik pangkat disyaratkan membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK), buku, artikel, dan sebagainya. Di samping harus menjadi suatu kebutuhan, menulis juga dapat menjadi peluang bagi guru untuk menambah penghasilan. Menjamurnya media massa seiring dengan dibukanya kebebasan pers dan banyak bermunculannya penerbitan saat ini menjadi pasar yang potensial bagi penulis untuk “memasarkan” tulisannya. Khusus untuk kalangan guru, beberapa media massa saat ini telah memberikan kolom khusus untuk guru. Selain keuntungan materi, menulis juga dapat mendatangkan kepuasan batin. Kita merasa bangga ketika artikel kita dimuat di surat kabar atau majalah, ide-ide kita dibaca orang, mampu mencerahkan, memotivasi, dan menginspirasi orang lain. Selain itu, melalui tulisan, nama kita pun dikenal orang lain. Jadi, para guru, marilah kita mulai belajar menulis!.***
Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print More Sharing Services 3

0 komentar:

Poskan Komentar